Minggu, 13 November 2011

monolog

selamat malam..
malam ini hujan gerimis..aku pun yakin pasti tak ada setitikpun sinar gemintang..yang ada hanya kilatan petir yg seolah menantangku utk bertanya..apakah kau melihat langit dan hujan yang sama? apa yang sedang kau pikirkan?
aku ingin tahu..layaknya tak ada bintang di langit hujan..pastikah tak ada juga bayangku yang sekelebat hadir di benakmu..? ya..aku sekedar ingin tau..karena hingga detik ini pun entah sudah berapa ribu kali aku menyebut namamu meski hny dalam hati.. aku berharap.. saat itulah aku hadir dalam anganmu..meski hanya sedetik.. aku tak berani berkhayal kau akan menoleh dan berpaling kepadaku..ya..berkhayal pun aku tak sanggup.. aku ingin mengatakan kepadamu..bukan menanyakan atau meminta balasan..aku hanya ingin memberimu pengakuan..biar aku lega..tapi mulutku sll terkunci utk itu..aku takut takkan ada waktu lagi dan kau..atau aku..benar-benar terlanjur pergi dan tak saling mengetahui..

posted from Bloggeroid

Rabu, 26 Oktober 2011

Biar aku menunggu..sampai kamu datang..atau sampai aku sadar kamu takkan datang..



Rasanya aku ga perlu menghitung atau mengkalkulasikan sudah berapa lama aku punya rasa ini.. bahkan aku sendiri pun ga tau apa yang sebenernya aku tunggu, aku ga tau kenapa aku bisa bertahan..
Aku cuma merasa aku jatuh..jatuh..jatuh sangat dalam..jatuh cinta sangat dalam.. aku ga tau apakah ini yang dinamain ikhlas..? kayaknya ga deh.. sejujur-jujurnya jujur, aku pengen milikin kamu kok.. aku ga mau munafik cinta itu ga harus memiliki..ah bullshit banget. Toh aku juga bakalan sakit hati kalo kamu ga punya perasaan yang sama..
iya..! aku pengen milikin kamu, karena dengan gitu, aku bisa berjuang untukmu, nunjukkin kalo aku sayang sama kamu.. apa? Sayang? Iya.. aku sayang sama kamu.. di saat hubungan kita yang renggang gini malah aku semakin yakin kalo perasaan ini ada..buat kamu! Bukan perasaan main-main lagi kaya awalnya, tapi perasaan yang ternyata semakin bertumbuh dari hari ke hari dan bikin hatiku mantap kalo kamu seseorang yang aku cari selama ini..walaupun kenyataannya aku gatau juga apakah aku orang yang kamu cari..hahaha
tiap detik, menit, jam aku tanya-tanya terus..kapan ya aku tau apa yang sebenernya terjadi di antara kita..masa kini dan masa depan..aku tanyaaaa terus apakah mungkin kamu punya perasaan yang sama kaya aku..? aku ngarep? Memang.. aku sayang sama kamu bukan karena..bla bla bla.. aku sayang sama kamu karena yaa aku sayang sama kamu.. udah gitu aja.. emang aku ga punya alesan sih.. tiba-tiba aja rasa itu muncul ga disangka-sangka.. salah siapa? Salah siapa aku nunggu? Salah siapa kamu tetep ga sadar perasaanku selama ini? Ha?
Aku pengen kenal kamu lebih jauh.. mungkin aku jahat.. aku pengen jadi sahabatmu dan bikin secara perlahan kamu sadar akan kehadiranku.. aku beneran ga bisa nahan perasaan ini.. aku ga bisa ngilangin perasaan ini ke kamu.. aku bener-bener sayang sama kamu..
Aku emang ga mau dikatain aku ngemis-ngemis, tapi inilah aku.. aku sayang sama kamu, aku pengen miliki kamu..tapi sampai kapanpun aku ga mau maksa kamu buat sayang sama aku balik..
Biarkan kalau emang kita ditakdirkan sama-sama, suatu hari nanti kita akan sama-sama..sebanyak apapun rintangan dan seberapa lama waktu yang kita lalui.. dan sekalipun bukan takdir kita untuk saling memiliki, aku yakin..Tuhan akan beri kekuatan lebih untuk aku hadapi hal itu..
Aku ga minta kamu datang berlari ataupun bertekuk lutut di hadapanku.. aku cuma mau minta ijin.. tolong sekali ini aja.. biarin aku nunggu kamu.. sampai kamu datang.. atau sampai aku sadar kalo kamu ga akan datang..

Kamis, 11 Agustus 2011

Ngobrol dengan Tuhan--Tentang Cinta



Tulisan ini merupakan kutipan pertanyaan seorang remaja dalam buku terjemahan “Ngobrol dengan Tuhan” (judul asli Conversation with God For Teens) karya Neale Donald Walsch halaman 146-152.

**Mengapa mencintai seseorang selalu menimbulkan kepedihan? Aku sudah capek disakiti oleh sesuatu yang semestinya memberikan kebahagiaan.
- Tiffany, 18 Tahun
::Mencintai seharusnya tidak menimbulkan kepedihan, Tiffany. Tapi kepedihan itu hampir selalu timbul kalau kamu mencampuradukkan “cinta” dengan “kebutuhan”.
Banyak orang beranggapan bahwa cinta adalah respons yang perlu dipenuhi. Dengan kata lain, kalau kamu bisa memenuhi kebutuhanku, aku mencintaimu.
Aku bisa memahami dari mana manusia mendapatkan gagasan seperti ini, sebab mereka diberitahu bahwa seperti itulah cara kerja Tuhan. Kalau ikamu memenuhi kebutuhan Tuhan, Tuhan menyayangimu. Kalau tidak, Tuhan tidak menyayangimu.
Padahal tidak demikian. Tapi seperti itulah yang diajarkan padamu dan ajaran itu sulit digoyahkan, serta mustahil tidak diacuhkan.
Jadi, kita mulai saja dengan ajaran-ajaran itu.
Tuhan tidak membutuhkan apapun darimu. Aku tidak butuh kamu puja, kamu patuhi, dan kamu datangi dengan cara tertentu, supaya kamu bisa memperoleh keselamatan.


**Wah, itu beda sekali dengan ajaran setiap agama di planet ini.
::Maaf, tapi memang begitulah adanya.
Tuhan adalah Segala Sesuatu. Alpha dan Omega, yang Awal dan yang Akhir, Penggerak yang Tidak Bergerak, Sumber yang Utama, dan Segala Sesuatu yang Ada.
Aku adalah segala sesuatu dan tidak ada apapun yang hidup di luar diri-Ku. Karenanya, sesuai definisi tersebut, Aku tidak membutuhkan apa-apa.
Ingat ini selalu: Tuhan tidak membutuhkan apa-apa.
Oleh karena itu menurut logika yang benar, kalau aku tidak membutuhkan apa-apa, Aku tidak akan menghukum kamu untuk sesuatu yang tidak kamu berikan pada-Ku. Itu termasuk kesetiaan pribadimu, caramu memuja atau datang kepada-Ku, atau bahkan pengakuanmu terhadap keberadaan-Ku.
Aku tidak butuh keberadaan-Ku kamu akui, Aku tidak butuh kamu berdoa kepada-Ku, atau berurusan dengan-ku sama sekali. Dan Aku tidak akan menghukum kamu dalam api neraka abadi kalau kamu tidak melakukan hal-hal di atas itu.
Aku sudah menjelaskan hal ini dalam Bab 10, tapi Aki ingin mengulanginya lagi di sini, kalau-kalau kamu belum sepenuhnya menangkap implikasi dari ucapan-Ku terdahulu—atau mungkin tidak mempercayainya.
Kukatakan: Percayalah.


**Apa hubungan semua ini dengan cinta?
::Sangat erat hubungannya. Manusia mencintai dengan cara yang mereka kenal, karena mereka piker seperti itu pulalah cara Tuhan mencintai. Manusia beranggapan bahwa cinta adalah respons Ilahi yang diberikan karena kebutuhan mereka telah dipenuhi. Padahal tidak demikian.
Cinta bukanlah respons. Cinta adalah keputusan.
Seorang pria bernama Scott Peck menyebutkan hal itu dalam buku berjudul The Road Less Traveled beberapa tahun yang lalu. Akulah yang menginspirasi dia untuk mengatakannya. Aku senang telah memberinya inspirasi itu, sebab kebanyakan orang tidak memahami kebenaran yang luar biasa tersebut.
Kebanyakan orang mengira cinta adalah respons, dan kesimpulan ini mereka ambil dari kesalahpahaman mereka tentang bagaimana dan kenapa Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu bukan karena apa-apa yang kamu lakukan untuk-ku. Aku mencintaimu karena dirimu semata-mata.
Hanya DIRIMU semata-mata.
Kamu bisa memahami? Kamu bisa menangkap maksud-Ku?
Cinta-Ku adalah keputusan, bukan reaksi.


**Ya, kurasa aku bisa memahami. Tapi, apakah itu berarti kami tak bisa berbuat apa pun untuk berusaha mendapatkan cintamu?
::Kamu tidak perlu berusaha mendapatkan cinta-Ku. Kamu sudah memilikinya.
Apakah bunga mawar perlu berusaha mendapatkan siraman hujan?
Apakah es krim perlu “berusaha” supaya kamu sukai?
Es krim tidak berbuat apapun supaya kamu sukai. Dia tampil apa adanya. Es krim ya es krim, dan kamu menyukainya.
Cobalah berpikir seperti ini: kamu adalah es krim bagi Tuhan.


**Manis sekali. Aku suka itu.
::Terima kasih.
Sekarang kamu tahu Aku mencintai dirimu apa adanya, dan Aku tidak memintamu melakukan apa-apa untuk memperoleh cinta-Ku. Aku tidak membutuhkan apapun darimu. Biarlah ini menjadi Model Cinta-mu yang Baru. Cinta memberikan dirinya sendiri tanpa alasan apapun. Cinta bukanlah balas jasa, juga tak bisa digunakan untuk menyogok agar kamu memperoleh sesuatu.
Cinta sejati adalah hasil dari keputusan yang kamu buat, tentang perasaan yang ingin kamu miliki terhadap seseorang. Kalau cinta itu muncul hanya sebagai respons terhadap apa yang dilakukan orang itu, itu sama sekali bukan cinta terhadap sesama, melainkan emosi yang direkayasa.
Saat kamu membuat keputusan untuk mencintai seseorang, sebelum kamu tahu apa yang mungkin mereka lakukan, bisa mereka lakukan, atau akan mereka lakukan untuk kamu atau terhadap dirimu, keputusan itu menjadi sangat penting. Kamu otomatis meningkatkan getaranmu. Maksud-Ku, keseluruhan dirimu jadi mulai bergetar dalam frekuensi yang lebih tinggi, dengan kecepatan yang lebih tinggi pula.
Perasaan cinta itu akan terpancar dari dalam dirimu, seperti cahaya matahari. Orang-orang merasa senang berada di dekatmu, dan mereka jadi merasa senang terhadapmu.
Sekonyong-konyong getaran mereka juga jadi meningkat—dan kemudian kamu mendapati dirimu selaras atau tersinkronkan dengan mereka.
Pada saat itulah hati mulai berdebar-debar, dan bunga-bunga api mulai beterbangan.


**Tapi bagaimana aku bisa memutuskan untuk mencintai seseorang, kalau aku belum tahu apa-apa tentang dia?
::Kamu mencintai orang karena siapa mereka, atau karena siapa kamu?


**Wah, itu pertanyaan sulit.
::Memang. Dan apa jawabanmu?


**Kurasa aku mencintai mereka karena siapa mereka.
::Terima kasih atas kejujuranmu. Sekarang ubahlah alasanmu mencintai mereka. Kalau kamu mencintai seseorang karena siapa dirimu, kamu menunjukkan bahwa kamu tidak membutuhkan apapun dari mereka, dan bahwa cintamu tidak didasarkan pada apa yang bisa kamu peroleh dari mereka.


**Tapi aku butuh sesuatu dari orang-orang yang kucintai. Aku tidak bisa bilang tidak butuh apa-apa dari mereka, sebab kenyataannya aku butuh.
::Tidak, kamu tidak membutuhkan apa pun dari mereka. Kamu cuma mengira mebutuhkannya.
Kamu tidak membutuhkan apapun, dari siapapun, untuk bisa merasa bahagia. Kamu bahkan sudah pernah merasakan kebahagiaan sepernuhnya dalam banyak saat-saat kehidupanmu, sebelum kamu bertemu orang-orang yang sekarang kamu kenal.


**Ya, tapi setelah mengenal mereka, aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Terutama tanpa orang-orang tertentu. Terutama tanpa yang “satu” itu!
::Itu tidak benar, tapi kalau kamu beranggapan demikian, kamu akan merasa benar-benar tidak bisa hidup tanpa mereka. Selanjutnya, kamu akan merasa tidak bahagia. Mula-mula kamu akan meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu tidak bisa hidup tanpa orang tertentu, lalu kamu memutuskan tidak cukup untuk seksedar memiliki orang itu dalam hidupmu. Kamu mesti memiliki orang itu dalam hidupmu dengan cara tertentu. (dia mesti pacarmu. Dia mesti “terikat” padamu).
Setelah itu, kamu akan memutuskan bahwa untuk merasa bahagia, kamu harus memiliki orang itu dengan cara tertentu, sebanyak jangka waktu tertentu—misalnya, setiap kali mereka punya waktu luang. Dengan segera kamu akan membayangkan bahwa untuk merasa bahagia, kamu mesti memiliki orang itu dalam hidupmu dengan cara demikian sepanjang waktu!
Bahkan mungkin kamu akan berkata bahwa kamu “bisa mati” kalau hidup tanpa orang itu. Tentu saja yang kamu maksud “mati” bukan benar-benar “mati”, melainkan bahwa ada satu bagian besar dirimu yang akan “mati” kalau orang itu tidak ada dalam hidupmu.
Nah, ironisnya, demi supaya satu bagian besar dirimu itu tidak mati karena hidup tanpa orang tersebut, kamu justru akan mematikan satu bagian besar dari diri orang tersebut.
Kamu akan mematikan semangatnya.
Kamu akan membuat dia sesak napas dengan cintamu, dan dengan kebutuhanmu akan cinta-nya, hingga dia akan tersedak, dan terbatuk-batuk, lalu dia terpaksa menyingkirkanmu, supaya bisa bertahan hidup.
Dia akan lari menjauh darimu. Dan ini menyedihkan sekali, sebab dia sebenarnya sangat menyukaimu, dan mungkin sebenarnya bisa mencintaimu—tapi dia tak sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu.


**Kok Engkau tau persis? Engkau membuntutiku kemana-mana ya?
::Aku memang tahu. Tapi bukan karena Aku mengikutimu kemana-mana. Aku tahu karena seperti itulah pengalaman cinta sebagian besar manusia. Dan itu karena kalian mencampuradukkan antara “cinta” dengan “kebutuhan”.
Sekarang coba dengar berita bagusnya, ingat ini baik-baik: kamu tidak membutuhkan apa pun di luar dirimu untuk merasa bahagia.
Aku tahu kamu menganggap kamu membutuhkan hal-hal di luar dirimu, walaupun sebenarnya tidak. Itu cuma ilusi. Ilusi perama dari sepuluh ilusi manusia.
Ilusi bahwa kebutuhan itu ada. ilusi bahwa kamu membutuhkan sesuatu atau seseorang di luar dirimu.
Tapi kalau kamu tetap ingin beranggapan demikian, cobalah latihan ini:
1. Tuliskan daftar orang, tempat, dan hal yang menurutmu kamu butuhkan untuk merasa bahagia.
2. Sekarang coba ingat-ingat masa ketika kamu tidak memiliki semua itu, tapi tetap merasa bahagia sepenuhnya.
3. Lalu tanyakan pada dirimu sendiri, “Kenapa sekarang aku menganggap diriku membutuhkan orang ini, tempat ini, atau benda ini untuk bisa merasa bahagia?”
Kalau kamu jujur terhadap dirimu, kamu akan menyadari bahwa kamu tidak membutuhkan semua itu. Kamu mungkin lebih suka menciptakan kebahagiaanmu dengan perangkat tersebut, tapi kamu tidak perlu memaksakannya.
Karena itu, jangan mengubah pilihan menjadi kebutuhan.

Senin, 04 Juli 2011

I Love You Even All The Small Things You Do --- A Crazy Little Thing Called Love

Beberapa waktu yang lalu aku dikasih film bagus sama Andika, awalnya sih apatis banget soalnya filmnya dari Thailand, karena bayanganku film Thailand itu film horror dan aku lagi ga mood nonton film horror waktu itu, maka aku gamau..tapi kata Dika film itu bagus, simple katanya, dan bukan horror..yaudah tak urung aku copy juga. Judul film itu “A Crazy Little Thing Called Love”. Inti ceritanya adalah usaha seorang gadis untuk mendapatkan cowo idaman yang jadi cinta pertamanya.. sinopsisnya baca di sini
Berangkat dari film itu, aku jadi mikir cinta itu ada di setiap hal yang sepele ya.. kaya ada adegan di film itu yang menggambarkan bahwa ternyata p’Shone mengamati setiap detail yang Nam miliki, baik tingkah lakunya, kata-katanya, dan lain-lain. Cinta itu sebenernya ga rumit, yang rumit adalah ketika cinta memiliki interaksi dengan aspek-aspek lain..hahaha yaiyalaaah…
Actually, uda 6 bulan lebih aku menunggu seseorang, walaupun kadang-kadang aku ga yakin tentang perasaanku ke dia, apakah perasaan ini cuma efek dari rasa kecewa dan putus asa..aku juga ga tau, yang jelas aku punya perasaan yang special buat dia.. jatuh bangun lah perjuanganku, ya emang ga sefrontal Nam dalam film “A Crazy Little Thing Called Love” yang sampai bermetamorfosis penampilan, tapi aku sadari penuh kalo aku emang berusaha ya “at least” lah karena dia bener-bener orang yang baru buat aku, dan bahkan sampai saat ini walaupun aku udah cukup dekat sama dia, aku yakin masih banyak sisi lainnya yang belum aku ketahui. Aku emang ga menganggap orang itu sempurna, jelas itu bukan poinku, poinku adalah ketika dia bisa bikin suatu getaran elektromagnetik imajiner yang aku rasain waktu dia liatin aku, waktu dia sapa aku, waktu aku buka hape dan aku liat ada tulisan “You’ve got a new message from…..”, bahkan selalu ada senyum kecil di setiap hal yang berhubungan dengan dia yang aku alami. Ya, cinta itu simple.. Terlalu cepat ga ya kalo aku bilang aku mulai sayang sama dia? Aku akuin sih aku jarang ketemu dia yg bener-bener spend time with him, paling beberapa kali aja, tapi kalo papasan atau sekedar nyapa sih sering. Saat kita bener-bener menghabiskan waktu sama-sama, terlepas aku ga tau perasaan dia ke aku tu kaya gimana, dia selalu memperlakukan aku dengan baik, jadi aku ga merasa asing kalo deket sama dia.. aku suka semuaaaaaaaa yang dia lakuin, bahkan hal-hal terkecil seperti saat dia bantu nyebrang jalan..saat dia…aaahhh..(labil mendadak*)
Yaaaahhh.. tapi sebenernya aku juga ga tau kapan penantian ini berakhir, mungkin Tuhan adil kali ya DIA masih ngasi waktu buat aku untuk lebih ngeyakinin hatiku sendiri buat nerima dia dan segala kekurangannya, setelah banyak hal terjadi sama aku sebelum ini yang pernah bikin aku ngerasa jatuh dan kehilangan rasa percaya diri..artinya aku harus belajar untuk mencintai diriku sendiri sebelum memutuskan untuk mencintai orang lain.
Aku cuma pengen bilang makasih buat dia karena tanpa dirinya sadari, dia uda ngajarin aku kalo cinta itu simple dan ga serumit yang aku bayangkan atau pernah alami, terima kasih udah bikin aku ngerasain getaran elektromagnetik imajiner itu lagi..hahaha. Aku ga nyangka kalo orang yang selama ini ga pernah aku bayangin malah bisa bikin aku senyum lagi.. ya, orang itu kamu ! :)
**********************************************************************************************




Sabtu, 18 Juni 2011

My Lovely Best Friends

Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau subur dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu. Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa memerlukan kedamaian. (Kahlil Gibran)

Nah, sejak aku ospek jurusan semester 1, aku sekelompok dengan dua teman baru cewek yg cantik, namanya Ryana dan Kiki, kita bertiga sama-sama dari Jogja, makanya langsung akrab. Keakraban itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita bertiga sahabatan deket banget, kemanamana bareng, duduk waktu di kelas bareng, maen bareng, ikut organisasi bareng.. ga pernah pisah. Emang sih sering ada perbedaan pendapat diantara kita, tapi ga pernah smp berlarut-larut atau ngrusak persahabatan kita soalnya pasti langsung diomongin dan minta maaf kalo ada yang ngerasa salah. Aku sangat sayang sama mereka.. mereka selalu ada buat aku, bahkan di masa-masa tersulit kehidupanku, saat aku bener-bener membutuhkan dukungan dan aku pun juga berusaha selalu ada buat mereka. Gak salah deh kata Gibran dalam quote-nya di atas.. hahahahaha
hal yang paling menyenangkan bersama mereka adalah kalo udah nongkrong bareng sambil makan terus curhat-curhat sampe mulutnya dower. Adaaaa aja yang diomongin.. masalah pria (ecieee..), masalah kuliah, temen-temen lain, keluarga, dan tentunya masa depan.. senengnya kita kalo ngomongin masa depan..(ini termasuk berkhayal ga ya?) kalo aku sama Ryana abis lulus maunya sih nyobain kerja ke Kemenlu biar jadi diplomat kalo Kiki pengennya jadi pegawai pemkab..trusan ngomongin suami idaman kek apa..bahkan ngomongin konsep pernikahan kita..!zz banyak juga sih rencana-rencana jangka pendek kita yang sampe sekarang belum kesampaian, misalnya arisan bertiga atau backpacker ke Bandung (bahasa halusnya shopping)..kapan ya kapan ya??????
Kita tetep bersama bukan hanya karena memiliki kesamaan tapi justru karena memiliki banyak perbedaan, dan kita ngerasa saling membutuhkan utk melengkapi kekurangan kita.. aku misalnya, aku tuh manja banget, cengeng, dan keras kepala..beda sama Ryana yang halus bgt, manutan, lembut atau sama Kiki yang dewasa dan solutif. Makanya aku butuh mereka..aku yakin mereka pun merasakan hal yang sama. Dinamika kehidupan bersama mereka tu sungguh unik, dgn mengerti mereka, aku jd mengerti banyak hal.. misalnya Ryana yang banyak fans dan aku sering jadi mediator, aku jd ngerti gimana harus bersikap netral ke semua orang, aku harus ngerti gimana perasaan Ryana sbg sahabatku dan orang yg suka sama Ryana, begitu juga dengan memahami Kiki dan segala permasalahannya..maaf sih aku kadang cuma bisa jd pendengar aja, soalnya Kiki jauh lebih dewasa kalo ngadepin suatu masalah
apapun kelebihan dan kekurangan mereka, apapun yang pernah terjadi, aku sangat berharap kita bisa mempertahankan semua ini sampai kapanpun, soalnya tiada waktu yang lebih berharga selain kebersamaan kita hehehe (bahasa eike cyiiin...)

nih beberapa bukti kelabilan, kebersamaan, dan kegilaan kita:

habis makan terus curhat-curhatan sampe dower..ini contohnya... (Ryana yang pake jilbab)


naaah kalo ini edisi narsis di cermin toilet..



yang ini nih..versi habis shopping! kita sering beli gelang samaan tapi selalu tak berbekas..hahaha ga teliti sih..




versi paling kontroversial nih..habis aksi menolak komersialisasi kampus! sampe2 foto kita pernah kepajang di detik.com *ups




jengggg....jerejejejennnng....

makasih ya Ki, Na.. buat semuanya.. love you all.. muaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh

Senin, 11 April 2011

ALTERNATIF KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI AREA RSUP PROF. DR. SARDJITO

Pendahuluan
Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan pelaku usaha sector informal yang melakukan kegiatan usahanya dalam jangka waktu tertentu dan bersifat sementara di daerah milik jalan atau fasilitas umum dengan menggunakan sarana berdaganag yang mudah dipindahkan dan dibongkar pasang. PKL dianggap menjadi suatu masalah ketika kehadirannya telah mendominasi ruang publik dan mengganggu keselarasan antara berbagai kepentingan di dalam ruang publik. PKL seringkali menggunakan trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki, mengambil badan jalan untuk berjualan, dan membuat tata kota terlihat semakin semrawut.

Kronologi Permasalahan
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di area UGM yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Sleman, keberadaan PKL di beberapa titik mulai menjamur. Begitu juga di area RSUP Prof. Dr. Sardjito yang lokasinya berhadapan dengan Fakultas Kedokteran UGM, yaitu di Jalan Kesehatan. Di sepanjang jalan antara kedua bangunan tersebut, dari utara ke selatan hingga pojok Fakultas Kedokteran Gigi UGM berjajar lapak-lapak PKL yang menjajakan berbagai macam dagangan, mulai dari makanan matang, snack, barang kebutuhan sehari-hari hingga pulsa tronik. Keberadaan PKL di area tersebut memiliki sejarah yang cukup panjang. Sejak tahun 1980, PKL di area RSUP Prof. Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM telah mendapat perhatian baik dari pihak UGM sendiri, pihak rumah sakit, maupun pihak Pemerintah Kabupaten Sleman. Pada masa kepemimpinan rektor UGM Koesnadi Hardjasoemantri, para PKL di area tersebut diberikan legitimasi penuh untuk tetap berjualan dngan menggunakan tempat khusus di depan bangunan rumah sakit dan depan bangunan kampus FK UGM. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah PKL semakin bertambah dan mulai tidak teratur sehingga menimbulkan banyak masalah, terutama tata ruang, yaitu menjadi kendala pembangunan taman di depan rumah sakit karena mereka mendirikan lapak-lapak di lokasi tersebut. Melihat kenyataan yang terjadi, Rektor UGM pada masa itu mulai mencari cara bagaimana melakukan penataan dan penertiban. Pada tahun 1994, ketika kepemimpinan rektor Dr. Soekanto Reksohadipuro M. Com terjadi demo besar-besaran yang dilakukan oleh PKL yang ada di wilayah UGM dengan diadvokasi oleh mahasiswa UGM di depan Gedung Pusat Rektorat UGM. Kebijakan yang diambil oleh Rektorat UGM dengan didukung oleh pihak RSUP Prof. Dr. Sardjito, dan Pemerintah Kabupaten Sleman, PKL yang ada di area RSUP Prof. Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM kemudian direlokasi di sebuah lahan kosong di utara gedung rumah sakit. PKL yang awalnya setuju pun akhirnya keberatan karena letaknya yang tidak strategis sehingga keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan ketika berjualan di pinggir jalan. Melalui paguyuban PKL yang dibentuk di masa-masa relokasi tahun 1996 yang bertujuan sebagai forum komunikasi dan konsolidasi PKL di area RSUP Prof. Dr. Sardjito, akhirnya diputuskan bahwa para PKL kembali lagi berjualan di sepanjang jalan antara RSUP Prof Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM. Namun, berdasarkan kesepakatan dengan pihak rumah sakit, bahwa PKL diperbolehkan berjualan hanya setelah jam kerja rumah sakit usai dan hanya berjualan di seberang jalan rumah sakit, yaitu di depan gedung Fakultas Kedokteran UGM. Permasalahan yang timbul kemudian adalah bahwa PKL melakukan pelanggaran atas kesepakatan dengan berjualan sepanjang hari di lajur kanan dan kiri jalan. Meskipun mereka telah menambah lahan dengan cara menutup selokan untuk mendirikan tenda, namun itu semua tidak menjadi solusi alternative atas permasalahan yang timbul.

Poin-Poin Masalah
Pada intinya, permasalahan PKL di area RSUP Prof. Dr. Sardjito-UGM dapat dipetakan sebagai berikut:
1. Mengganggu arus lalu lintas
PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Kesehatan tersebut telah memakan badan jalan dengan pendirian lapak-lapak dan tenda-tenda yang tidak teratur, sehingga ruas jalan menjadi sempit dan mengganggu kendaraan yang melintas, termasuk arus keluar masuk pasien dan pengunjung rumah sakit dan mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM.
2. Kualitas dagangan dan tata letak PKL sangat kontras dengan citra rumah sakit yang bersih dan higienis
Karena berada di pinggir jalan, tidak dapat dipungkiri bahwa dagangan yang dijajakan oleh PKL tercemar oleh polusi udara dari kendaraan yang melintas. PKL-PKL tersebut juga tidak memiliki keran air sehingga tidak dapat dijamin kebersihannya. Ditambah lagi minyak yang dipakai menggoreng berulang kali yang dapat menjadi factor utama penyebab munculnya berbagai macam penyakit.
3. Tidak adanya kerja sama antar stakeholder yang seharusnya menangani permasalahan PKL
Antara pihak rumah sakit, rektorat UGM, dan Pemerintah Kabupaten Sleman terkesan saling lempar tanggung jawab mengenai permasalahan PKL. Pemerintah Kabupaten Sleman, melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tidak akan bertindak represif terhadap PKL apabila tidak ada pengaduan dari pemilik tempat yang digunakan PKL untuk berjualan. Begitupun dari pihak rektorat dan rumah sakit tidak begitu peduli mengenai permasalahan tersebut.
4. Kegagalan relokasi sebagai suatu solusi alternative
Relokasi telah dipilih sebagai suatu solusi alternative dari permasalahan PKL, namun yang terjadi ketika relokasi tidak menghasilkan keuntungan bagi banyak pihak yang saling tarik menarik kepentingan adalah solusi tersebut dapat dikatakan gagal. Seperti dalam kasus ini, relokasi di tempat yang tidak strategis dan tidak adanya sosialisasi kepada PKL sendiri maupun masyarakat sebagai konsumen, menyulitkan posisi PKL yang bergantung pada pekerjaan tersebut.


Alternatif Kebijakan

Kebijakan publik yang pro pembangunan pada dasarnya diperlukan untuk me-rebounding dominasi globalisasi dan kapitalisme sehingga tidak menabrak keadilan dan kesejahteraan sosial (Suharto, 2008) juga sebagai produk yang dikeluarkan oleh negara sangat diharapkan untuk dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Menurut David Gill (dalam Soeharto, 2008), untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan sosial , terdapat perangkat dan mekanisme kemasyarakatan yang perlu diubah, yaitu yang menyangkut:
1. Pengembangan sumber-sumber
2. Pengalokasian status
3. Pendistribusian hak
Selain itu dalam pembuatan kebijakan publik harus diperhatikan kepentingan berbagai stakeholder yang dibagi menjadi dua macam yaitu stakeholder primer yang dalam kasus ini adalah PKL dan stakeholder sekunder, yaitu pihak pemerintah, pihak Rektorat UGM, dan pihak RSUP Prof. Dr. Sardjito. Kebijakan publik harus mampu merepresentasikan kepentingan-kepentingan stakeholders sehingga tercipta kebijakan publik yang berorientasi pada win win solution.
Kebijakan publik kaitannya dengan permasalahan PKL di area RSUP Prof. Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM memang perlu segera direalisasikan mengingat berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 11 Tahun 2004 tentang Pedagang Kaki Lima yang berbunyi: “bahwa dalam perkembangannya, keberadaan pedagang kaki lima di kawasan perkotaan Kabupaten Sleman yang menggunakan daerah milik jalan atau fasilitas umum telah menimbulkan gangguan ketentraman, ketertiban masyarakat, kebersihan lingkungan, dan kelancaran lalu lintas sehingga perlu dilakukan pengaturan agar tercipta tertib sosial dan ketentraman masyarakat.”
Berdasarkan pemahaman tersebut, maka berikut ini adalah beberapa alternative kebijakan yang berorientasi pada keadilan masyarakat guna mewujudkan kesejahteraan bersama yang dapat digunakan sebagai solusi permasalahan PKL di area RSUP Prof. Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM:
1. Relokasi yang diikuti sosialisasi dan konsep manajerial yang efektif
Penataan kembali PKL yang ada di wilayah RSUP Prof. Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM dapat dilakukan dengan cara relokasi pada tempat yang telah disediakan, namun perlu diingat bahwa kegagalan relokasi sebagai solusi sebelumnya diakibatkan karena letak yang kurang strategis sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat. Maka, perlu dibuat kebijakan pendukung yaitu sosialisasi baik kepada PKL yang berjualan, kepada stakeholders yang memiliki kepentingan, dan khususnya kepada masyarakat sebagai konsumen. Perlu ditekankan pula konsep manajerial yang menguntungkan semua pihak, misalnya dengan pembatasan jumlah PKL yang memiliki menu makanan yang sama maupun konsep tata letak yang efektif dan menarik dari segi estetika diikuti dengan terjaminnya kebersihan dan kehigienisan dagangan sehingga banyak konsumen yang tertarik. Selain itu, perlu disosialisasikannya peraturan Pemerintah Daerah menyangkut PKL dan kerugian-kerugian serta permasalahan yang terjadi apabila mereka tetap bertahan untuk berjualan di tempat tersebut, disertai sanksi-sanksi bagi pelanggaran yang dilakukan. Cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan bermusyawarah dan melibatkan pihak-pihak yang terkait.
2. Pembinaan PKL bekerja sama dengan LSM, koperasi, dan pemerintah
Selama ini, PKL hanya berbekal sedikit pengalaman dalam menjalankan usahanya. Alangkah baiknya apabila pemerintah membentuk jiwa-jiwa kewirausahaan dalam diri PKL, misalnya profesionalitas dan optimism dengan cara melakukan pembinaan yang dibantu oleh LSM, koperasi, maupun pemerintah sendiri. Sehingga, dalam melanjutkan usahanya, para PKL memiliki suatu visi yang prospektif dan tidak melulu memikirkan kepentingannya sendiri melainkan juga berorientasi pada kepentingan bersama yang mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.
3. PKL didorong untuk membentuk suatu badan usaha yang lebih mandiri
PKL akan semakin memiliki prospek yang bagus apabila telah dilegalkan oleh badan hukum. Oleh karena itu, koperasi menjadi salah satu cara untuk memandirikan PKL. Pemerintah berkewajiban untuk mendorong sekumpulan PKL agar membentuk suatu koperasi yang mampu menjamin kesejahteraan anggotanya. Melalui koperasi, PKL juga dituntut untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan perekonomian suatu bangsa.
4. Menyelenggarakan pameran perdagangan dan kewirausahaan yang diikuti oleh PKL
Melalui pameran perdagangan yang diselenggarakan pemerintah, PKL dituntut untuk berkompetisi secara sportif dan terus berusaha keras untuk meningkatkan kualitas dagangannya maupun segi profesionalitas manajerialnya. Setiap PKL yang dinilai mampu berkompetisi akan mendapatkan insentif atau suntikan modal dari pemerintah guna memajukan usahanya.

Kebijakan Publik sebagai Wadah untuk Mengaktualisasikan Demokrasi
Demokrasi sebagai suatu paham baru yang dicita-citakan dapat merubah dunia menjadi lebih baik. Demokrasi telah terbukti mampu membuat suatu kemajuan dan menumbangkan kediktatoran pemerintahan, baik di Eropa, Amerika Latin, maupun negara-negara di belahan dunia lainnya. Menurut Georg Sorensen (dikutip dari halaman xxii), demokrasi tidak hanya akan meningkatkan kebebasan politik dan hak asasi manusia (HAM), tetapi juga akan membawa kepada pembangunan ekonomi yang cepat dan meningkatkan kesejahteraan dan hubungan internasional yang bercirikan kerjasama damai dan saling pengertian. Poin utama demokrasi adalah partisipasi aktif dari masyarakatnya dalam kehidupan berbangsa, berpolitik, sosial, dan ekonomi. Masing-masing individu sebagai warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama. Oleh karena itulah demokrasi menjadi suatu paham yang terbaik dari semua pilihan terburuk yang diimplementasikan sesuai dengan keadaan dan kearifan suatu negara.
Salah satu indikator keberhasilan demokrasi adalah ekonomi. Ketika kehidupan ekonomi suatu bangsa dapat dikatakan stabil dan masyarakatnya telah mengalami kesejahteraan secara merata, maka proses demokratisasi akan semakin mudah terwujud. Namun hal itu tidak mutlak karena dalam kasus di berbagai negara, India misalnya mampu mewujudkan pemerintahan yang demokratis namun tidak dapat mewujudkan pemerataan kesejahteraan sosial.
Dewasa ini, kebijakan publik sebagai suatu produk dari pemerintah guna mengatasi permasalahan yang terjadi tidak luput dari pengaruh berkembangnya isu demokratisasi. Kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah dituntut untuk merepresentasikan paham demokrasi di semua bidang kehidupan kewarganegaraan, termasuk dalam bidang perekonomian. Kebijakan publik tidak melulu berwujud peraturan-peraturan hitam di atas putih, namun juga legitimasi pemerintah yang turun tangan langsung dalam penyelesaian masalah. Terkait dengan kebijakan publik yang diproduksi oleh pemerintah guna mengatasi permasalahan pedagang kaki lima, demokrasi yang sangat sesuai dengan kepribadian dan ciri khas bangsa Indonesia diwujudkan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat dari berbagai stakeholders atau pemangku kepentingan yang terkait dengan permasalahan tersebut. Dalam kasus PKL di wilayah RSUP Prof. Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran UGM, musyawarah merupakan salah satu langkah paling solutif dalam menyelesaikan masalah, mengingat sebelumnya tidak pernah terjadi di antara stakeholder tersebut duduk bersama dan membicarakan bagaimana penyelesaian masalah tersebut. Maka yang diharapkan adalah melalui musyawarah akan terjadi saling dengar pendapat dengan berbagai perspektif sehingga akan tercipta penyelesaian yang menguntungkan semua pihak.
Kebijakan publik yang mengaktualisasikan proses demokratisasi juga dapat diwujudkan dengan pemberdayaan PKL. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa perekonomian suatu bangsa berhubungan erat dengan demokratisasi. Sehingga, pemberdayaan PKL sebagai suatu elemen pelaku usaha yang mandiri, professional, dan berjiwa wirausaha yang memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat meningkatkan pemerataan kesejahteraan yang semakin mendorong terwujudnya proses demokratisasi.

Kesimpulan dan Rekomendasi
Keberadaan PKL di suatu daerah memang tak dapat disangkal lagi dan amat sulit untuk dihindari meski operasi-operasi penertiban yang terkadang cenderung koersif tak henti-hentinya terjadi. Sesungguhnya solusi mengenai PKL tidak harus selalu dengan menggunakan cara-cara yang memaksakan suatu kepentingan namun mengambil jalan tengah dari kepentingan-kepentingan tersebut. Pemaksaan pemusnahan PKL dengan cara-cara yang koersif justru akan menimbulkan gejolak dan ketidakstabilan politik, karena pemerintah dianggap sebagai policy maker yang bertangan besi. Pemerintah yang bekerja sama dengan para stakeholder lainnya, seperti LSM, Koperasi, Bank, dan perusahaan-perusahaan yang dapat menciptakan jaringan dengan PKL sehingga diharapkan mampu menciptakan solusi yang efektif dan damai mengingat PKL bukanlah pelaku kriminal dan hanya bisa merusak tata ruang kota, namun sebaliknya jika disokong dengan pengetahuan yang luas mengenai dunia usaha dan permodalan yang cukup disertai kemampuan manajerial yang baik, PKL dapat berguna dalam penyerapan tenaga kerja dan mendukung pemerataan kesejahteraan.




DAFTAR PUSTAKA

Soeharto, Edi. 2008. Analisa Kebijakan Publik. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Sorensen, Georg. 2003. Demokrasi dan Demokratisasi (Proses dan Prospek dalam Sebuah Dunia yang Sedang Berubah) (terj). Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Lembaran Daerah Kabupaten Sleman (Berita Resmi Kabupaten Sleman). Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 11 Tahun 2004 tentang Pedagang Kaki Lima.




FRIZCA ROSDHIANA PUTRI
09/282943/SP/23619
JURUSAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN
FISIPOL UGM

Selasa, 15 Maret 2011

Sebuah Penantian

tentu bukan cinta pandangan pertama, bukan pula kedua, ketiga..
rasa yang sebelumnya tak pernah terbayang dan terbantahkan
mulai mengisi, menyelusup ruang-ruang hati yang pernah nyeri
air mata mulai berganti tawa ketika kau ada
luka mulai sirna terbawa senyummu yang selalu menyapa
bukan karena aku putus asa atau terhisap lara
bukan itu..
aku hanya ingin membuka hati..
dan telah kujatuhkan pilihan padamu
aku ingin belajar mencintai..
aku tak ingin mengingat rasa sakit itu lagi..


aku ingin.. satu cinta yang tanpa air mata.. darimu..

Rabu, 09 Februari 2011

Satu Untuk Indonesia



Miris banget ya kalo belakangan ini nonton berita.. ada kekerasan di mana-mana.. ga usah di Mesir deh yang lagi demo besar-besaran diwarnai tindak kekerasan dan kriminalitas, di Indonesia.. saling menyerang, menyiksa, bahkan membunuh di antara saudara sendiri tu udah jadi hal yang biasa. Mereka yang dirasa ga sekelompok, ga se-ideologi, ga se-agama dianggap salah... salah di sini masih masuk ke pengertian manusia lho…
Mungkin berhubungan dengan hal itu juga khotbah di gereja minggu kemarin Romo-nya kasih cerita perumpamaan inspiratif tentang Yesus yang maniak sepak bola. Jadi, di suatu hari ada pertandingan sepak bola antara kesebelasan Kristiani sama kesebelasan non Kristiani, di situ Yesus nonton duduk dengan asyiknya. Waktu kesebelasan kristiani berhasil mencetak gol, Yesus teriak-teriak girang sambil loncat-loncat, niup terompet. Tak lama kemudian, kesebelasan non Kristiani berhasil menyamakan kedudukan, Yesus juga tetep kegirangan kaya tadi. Yang di sebelah Yesus jadi bingung..ini sebenernya Yesus mihak yang mana sih kok dua-duanya masukin gol dan Yesus tetep loncat-loncat seneng. Yesus jawab gini “Aku tidak memihak siapapun. Yang penting adalah pencetakan gol. Itu kan esensi dari sepak bola. Pokoknya aku maniak sepak bola, terserah siapa yang mencetak gol”. Ya, begitulah esensi pencetakan gol adalah esensi kehidupan. Siapapun yang melakukan, apapun agama, ideology, dan kepercayaannya. Pencetakan gol dalam kehidupan ini merupakan suatu proses dan hasil kita memaknai nilai-nilai ‘vertikal’ dan ‘horisontal’, dengan Tuhan dan dengan sesama. Keduanya harus seimbang. Kadang-kadang manusia hanya berpikir bahwa Tuhan yang utama, aku ga bilang sih mereka salah memahami atau gimana, tapi yang aku tahu, Tuhan itu kan Maha Kasih, kalau mereka benar-benar mengandalkan Tuhan dalam kehidupan mereka.. masa iya, mereka tega menodai nilai-nilai kemanusiaan? Alasan membela Tuhan dan membela agama itu ambigu banget ya.. mengutip kata Gus Dur, Tuhan itu kan ga perlu dibela.. lagian setauku di agama manapun ga diajarin bunuh membunuh gitu.. kalo emang itu dirasa salah.. doakan! Kan malah membuktikan kalo kita punya agama.. Tuhan ga pernah liat agama kita kok.. ga mungkin lah waktu mati ditanyain “kamu agamanya apa..? ohh agama X..?kamu ga boleh masuk surga” ga mungkin kaya gitu, pasti yang diutamain adalah perbuatan kita. Buat apa tiap hari belajar Kitab Suci, belajar agama sampai ke akar-akarnya tapi ga punya rasa kemanusiaan..?
Kita harus tau, semakin terpecah, kita bakal semakin hancur.. Indonesia yang ada sekarang ini udah rapuh banget!! Jangan tambahin lagi lah masalah-masalah yang harusnya ga terjadi.. mau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua.. mau suku Jawa, Batak, Sunda, Dayak, Madura, kulit hitam kulit putih.. Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu, Kejawen, ga punya agama.. mau yang agamis, marhaenis, nasionalis, liberalis, sosialis.. itu semua ga ada bedanya.. Cuma identitas yang melekat dalam diri kita aja yang jelas kita itu tetep satu.. INDONESIA. Oke?? INDONESIA yang ber-BHINNEKA TUNGGAL IKA!!!!!! Ga ada bedanya..!
Kata Bung Karno, persatuan Indonesia adalaha condition sine qua non syarat mutlak bagi tegak dan jayanya Indonesia, ga bisa ditawar-tawar lagi. Jadi, udah jelas kan.. ayolah kita berdamai, ayolah kita bersatu.. kita bangkit lagi dari keterpurukan ini.. kita bangun Indonesia yang baru..! berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, susah senang kita rasakan sama-sama.
Yaaahh..tulisan ini entah bisa ngrubah keadaan atau nggak at least aku uda ngeluarin unek-unekku, mungkin sekarang aku ga bisa apa-apa.. tapi suatu hari nanti aku akan jadi salah seorang Putra Sang Fajar yang bisa membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi..aku janji!
HIDUP INDONESIA BARU!

Sabtu, 05 Februari 2011

Wacana Sultan Wanita di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat: Kebangkitan Feminisme di Tengah Kungkungan Tradisi


Sebagai salah satu Keraton di Jawa yang masih setia mempertahankan tradisi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berusaha terus melestarikannya melalui pemimpin yang diyakini mampu membawa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke arah yang lebih baik tanpa melupakan fondasi-fondasi utama yang pada jaman dahulu kala telah diletakkan oleh para leluhur. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sendiri memiliki banyak konsep social, budaya, dan filosofi-filosofi yang adiluhung, sehingga dijadikan pegangan oleh masyarakatnya. Masyarakat Yogyakarta yang berkiblat pada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sosok utuh manusia Jawa sejati yang dapat dijadikan panutan karena sifat sabar, halus, dan nrimo (pasrah). Oleh karena itulah figure pemimpin (raja) menjadi begitu penting di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan bagi masyarakat Yogyakarta pada umumnya, karena sejak didirikan untuk pertama kalinya, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah dikenal kedekatan antara raja dan rakyatnya, sehingga raja yang memerintah dituntut untuk memiliki kapabilitas menjadi suri teladan yang baik bagi rakyatnya.
Dunia mengakui bahwa dibalik seorang pemimpin pria, pasti ada peran wanita super di belakangnya. Namun, kini wanita tak lagi hanya diakui sebagai sosok yang berdiri di belakang pria, yang hanya berperan sebagai pendorong keputusan yang diambil oleh pria. Wanita telah berhasil menyejajarkan posisinya dengan kaum pria, wanita berhak memimpin, wanita berhak mengambul keputusan. Wanita masa kini telah memiliki kapasitas yang sama dengan pria, baik aspek intelegensi maupun leadership. Maka dari itu, tidak pernah menutup kemungkinan bahwa suatu hari nanti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat maupun istana-istana lainnya dipimpin oleh seorang wanita sebagai ratu, karena bagaimanapun juga di era keterbukaan ini sudah bukan masanya lagi wanita mengalami diskriminasi dan diberikan hak-hak yang lebih rendah daripada kaum pria.


Feminisme di Lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Dulu Hingga Kini
Berawal dari politik devide et impera (adu domba) yang dijalankan oleh pemerintahan kolonial Belanda yang bertujuan untuk memecah belah Kerajaan Mataram, yang akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti (1755) yang berisikan bahwa Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua bagian, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang menentang campur tangan Belanda dengan urusan dalam negeri Kerajaan Mataram pun akhirnya hijrah ke Yogyakarta dan mendirikan sebuah kerajaan. Di kerajaan yang dibangun mulai tahun 1756 dan kemudian diberi nama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itulah Pangeran Mangkubumi menjadi raja pertama dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pangeran Mangkubumi merupakan tonggak awal berdirinya dinasti-dinasti Kesultanan di Yogyakarta yang tradisi spiritual dan budayanya hingga kini masih dipegang teguh oleh para penerusnya.
Pada awal berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, secara simbolik telah diakui bahwa pria dan wanita memiliki peran yang saling melengkapi, dibuktikan dengan dibangunnya tugu pal putih yang memiliki garis imajiner lurus dengan tahta Sultan di Keraton sebelah Selatan dan dengan puncak Gunung Merapi di sebelah utara. Tugu ini berbentuk lingga dan yoni, yaitu symbol alat kelamin pria dan wanita yang saling menyatu, menandakan bahwa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyadari bahwa pria dan wanita merupakan kesatuan yang utuh dan tak dapat dipisahkan. Tak hanya berwujud tugu, symbol lingga dan yoni juga terdapat di bagian-bagian tertentu di bangunan di dalam lingkungan Keraton. Meskipun secara tersirat telah ada pengakuan persamaan atau fungsi saling membutuhkan antara pria dan wanitasejak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri, namun wanita tetap menjadi warga negara kelas dua di lingkungan Keraton dan masyarakat pada umumnya. Wanita yang tinggal di dalam lingkungan Keraton dituntut untuk menjaga diri sebaik-baiknya, baik dalam pikiran maupun tingkah laku. Wanita tidak dapat mengemukakan pendapatnya dengan bebas. Bahkan wanita-wanita Keraton dilarang keras untuk membantah perkataan dan keputusan yang telah ditetapkan oleh ayah, suami, maupun kakak lelakinya. Pria begitu mengambil baanyak bagian dalam kehidupan Keraton, wanita hanya mampu untuk ber-sendika dhawuh menaati semua yang telah ditetapkan oleh kaum pria. Intinya, garis kehidupan seorang wanita di dalam Keraton telah ditentukan oleh paugeran-paugeran (aturan-aturan) di dalam Keraton dan berdasarkan kehendak ayah, suami, maupun kakak lelakinya. Jika ia membantah, yang ada hanyalah sebuah situasi di mana akan semakin memojokan posisi wanita tersebut. Para wanita keraton ini meski beruntung sempat diberi kesempatan untuk mengecap bangku pendidikan jika dibandingkan dengan rakyat biasa, namun tetap saja kesempatan itu tidak seluas yang diberikan kepada pria yang diijinkan untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Alasan dari keputusan ini adalah anggapan bahwa setinggi apapun pendidikan yang dicapai oleh wanita, semua itu akan menjadi sia-sia belaka karena wanita telah ditakdirkan untuk menjadi sekedar konco wingking bagi pria atau disebut juga sebagai pengurus rumah tangga. Bahkan dalam upacara-upacara/ritual pun wanita berjalan atau duduk di belakang pria. Hal ini membuktikan adanya kesenjangan jender di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di masa lampau, ketika ide-ide kesetaraan jender dirasa be lum penting untuk diwacanakan maupun diimplementasikan.
Seiring dengan perkembangan jaman, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun dalam beberapa hal mulai mengikuti konsep-konsep global tanpa meninggalkan tradisi yang telah dianut sejak lama. Begitu juga dengan isu kesetaraan jender yang telah merebak di berbagai belahan dunia di mana persamaan hak antara pria dan wanita mulai diperjuangkan. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun mulai member kesempatan kepada wanita, terutama dalam hal pendidikan dan menentukan nasibnya sendiri. Peran wanita di dalam Keraton mulai diperhitungkan dengan diangkatnya wanita sebagai pemimpin yang membawahi dan mengatur beberapa urusan tertentu di Keraton, misalnya persiapan upacara maupun urusan kebudayaan lainnya, namun tetap saja urusan itu tak jauh-jauh dari tugas wanita sesungguhnya. Meski pria masih bertindak sebagai pengambil keputusan, namun wanita tak dilarang untuk urun rembug menyampaikan penggalih (perasaannya) atas pengambilan suatu keputusan . secara langsung maupun tidak langsung, dewasa kini dalam banyak hal peran antara pria dan wanita di dalam Keraton mulai disejajarkan dan saling melengkapi.
Terkait wacana pengganti Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mulai bergulir di masyarakat, santer beredar isu bahwa GKR. Pembayun (yang memiliki nama lahir GRA. Nurmalitasari), putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono X telah dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya menduduki tahta kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Hal ini mengingat bahwa Sri Sultan tidak memiliki anak laki-laki untuk menjadi putra mahkota dan hanya memiliki lima anak perempuan, yaitu GRA. Nurmalitasari (GKR. Pembayun), GRA. Nurmagupita (GKR. Condrokirono), GRA. Nurkamnari Dewi (GKR. Maduretno), GRA. Nurabra Juwita, dan GRA. Nurastuti Wijareni.
Sebagai seseorang yang “digadhang-gadhang” menjadi penerus tahta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR. Pembayun cukup memiliki kompetensi dan kapabilitas yang memadai. Dahulu, seorang Sekar Kedhaton (putri utama keraton) sangat tertutup dan memiliki akses yang terbatas dengan dunia luar, sehingga tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menjadi seorang pemimpin, atau bahkan pengganti Sultan, namun berbeda dengan putri-putri Keraton jaman dulu, GKR. Pembayun merupakan seorang putri yang berwawasan luas, tak heran karena beliau memiliki pendidikan yang tinggi, selain itu juga sudah tidak canggung lagi jika bergaul kalangan internasional karena beliau telah lama tinggal di Australia untuk menempuh pendidikannya dan membawa pulang gelar sarjana bisnis retail dan telah malang melintang menjalankan bisnisnya yang juga berskala internasional. Kedekatannya dengan rakyat ditunjukannya dengan menjadi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Indikator-indikator ini membuktikan bahwa GKR. Pembayun sebagai seorang wanita masa kini yang diwacanakan untuk menjadi Sultan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki kemampuan yang sejajar dengan pria. Beliau adalah seorang putri keraton hasil didikan dari kebangkitan feminisme.

Hakikat Wanita dan Kekuasaan dalam Tradisi Jawa
Pada dasarnya, pria dan wanita diciptakan sama oleh Tuhan. perbedaan-perbedaan yang ada di antara pria dan wanita bertujuan agar pria dan wanita dapat saling melengkapi dalam menjalani kehidupan. Namun kenyataannnya pria dianggap memiliki kedudukan yang lebih superior dibandingkan dengan wanita. Terutama pandangan banyak orang bahwa wanita Jawa sebagai wajah ketertindasan . Menurut falsafah Jawa, kata wanita merupakan gabungan dari kata “wani” (berani) dan “ditata” (diatur), artinya, seorang wanita adalah sosok yang berani ditata atau diatur. Dalam kehidupan praktis masyarakat Jawa, wanita adalah sosok yang selalu mengusahakan keadaan tertata, sehingga untuk itu pula dia harus menjadi sosok yang berani ditata. Berani ditata tidak berarti wanita menjadi pasif dan tergantung kepada orang yang mengaturnya .
Perbedaan yang mengemuka antara superior dan inferior pria dan wanita terlahir karena adanya pembentukan fisik dan sikap antara pria dan wanita yang berlainan. Pria terlahir dengan kondisi fisik yang tegap dan kekar, sedangkan wanita terlahir dengan kondisi fisik dan sikap yang terkesan rentan, lembut, dan lemah gemulai. Hal inilah yang menimbulkan konsepsi perbedaan antara pria dan wanita. Dalam lingkungan keluarga, pria mendapat peran di arena publik, misalnya bekerja dan mencari nafkah di lingkungan luar rumah karena dengan kondisi fisiknya dianggap mampu bertahan dengan keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan di dunia luar. Sedangkan, wanita mendapat peran di arena domestic, yaitu mengurus rumah tangga, karena kondisi fisiknya dianggap tidak mampu bertahan menghadapi tantangan-tantangan di dunia luar. Karena berada di arena domestic, wanita cenderung memiliki pola pikir yang taktis dan praktis. Dalam menghadapi setiap masalah, wanita berfikir secara menyeluruh di samping memakai kehalusan perasaannya.
Pandangan yang menjadi mitos orang Jawa adalah anggapan bahwa wanita menjadi konco wingking seorang suami. Anggapan ini lahir dari konsep paternalistik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Jawa. Konco wingking yang menjadi patokan di masa lalu tersebut memiliki definisi yang sempit, yaitu wanita hanya sebagai seseorang yang mengurusi dapur dan mencukupi kebutuhan suami dan anaknya. Wanita dianggap tabu apabila terlalu berurusan dengan dunia luar secara intensif. Pada akhirnya anggapan ini bergeser sesuai dengan perkembangan jaman. Kini, konco wingking tidak dapat diinterpretasikan melalui satu sisi saja, yaitu sisi negative. Meski anggapan kinco wingking tidak bisa benar-benar lepas dari wanita Jawa, namun para wanita ini, sebagai konco wimgking dari pria/suami sanggup menjadi seorang sutradara yang mengatur scenario dengan baik. Wanita Jawa memiliki kekuasaan yang terselubung di balik keputusan dan kemampuan seorang pria/suami . Konsep falsafah Jawa yang lain yaitu “garwa” atau sigaraning nyawa dirasa lebih egaliter dan sejajar karena memiliki arti belahan jiwa.
Terlepas dari mitos-mitos dan pandangan negative terhadap wanita Jawa, sesungguhnya wanita Jawa merupakan sosok yang sabar dan siap menderita. Wanita Jawa berpegang pada peribahasa “cancut tali wanda”, yang memiliki arti bahwa sikap siap untuk terlibat, mengambil peran, bahkan komando dan taktis untuk menghadapi masalah, tidak hanya dalam ide tapi juga dalam pelaksanaannya. Wanita Jawa terkenal akan kesediaannya untuk menderita, ketahanan dalam menghadapi segala masalah, dan kesetiaannya dalam pengabdian.
Wanita Jawa merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan. Dalam banyak hal, wanita Jawa sesungguhnya ikut mengambil bagian dalam setiap unsur kekuasaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hakikatnya, konsep kekuasaan Jawa menuntut adanya keseimbangan antara feminin dan maskulin atau kombinasi antara pria dengan wanita karena telah diketahui bahwa pria dan wanita ada untuk saling melengkapi, walaupun terasa janggal apabila menggabungkan keduanya karena wanita identik dengan kelemah lembutan, sedangkan kekuasaan identik dengan kekuatan dan ketegaran yang dimiliki oleh kaum pria. Konsensus yang berlaku di masyarakat adalah minimnya kesempatan yang diberikan kepada wanita untuk menjadi pemimpin. Dari segala kelemahan yang dituduhkan kepadanya, kekuatan wanita Jawa sebagai pemimpin sesungguhnya justru ada dalam sisi feminisnya tanpa banyak menonjolkan sisi maskulin yang dimiliki oleh kaum laki-laki.

Kesimpulan, Harapan, dan Solusi
Tentunya dapat dipastikan bahwa tak mudah bagi GKR. Pembayun untuk menduduki tahta kerajaan sepeninggal ayahandanya kelak, karena belum pernah ada suksesi pergantian tampuk kekuasaan Sultan dengan diangkatnya seorang wanita sebagai Sultan pengganti. Sejak dinasti awal didirikannya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Pangeran Mangkubumi hingga saat ini, pengganti-penggantinya merupakan seorang pria. Naiknya GKR. Pembayun ke atas tahta akan menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat, bahkan di kalangan kerabat Kraton sendiri.
Paugeran atau perundang-undangan yang mengatur kehidupan di dalam kraton yang diyakini oleh kerabat kraton selama ini mengenai pengganti setelah raja mangkat adalah putra laki-laki yang telah ditunjuk , jika raja tidak memiliki putra laki-laki, maka kedudukannya sebagai Sultan digantikan oleh adiknya laki-laki. Hal ini termaktub dalam konvensi tradisional Kerajaan mataram dan telah dipraktekkan ketika masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V yang tiba-tiba wafat, kemudian digantikan adik laki-lakinya yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Oleh karena itu, apabila GKR. Pembayun naik tahta sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, maka akan meruntuhkan tradisi sejak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan. Layaknya konstitusi negara yang dapat diamandemen, maka tidak mustahil bahwa paugeran (perundang-undangan) di dalam keraton juga bisa diubah sesuai dengan perkembangan jaman, karena sesungguhnya paugeran tersebut bersifat dinamis. Namun, semuanya itu juga tergantung dari otoritas Sultan yang pada saat itu tengah berkuasa dengan mempertimbangkan pendapat dari kerabat keraton, sehingga keputusan yang dititahkan Sultan nantinya merupakan wujud dari kesepakatan internal bersama keluarga keraton.
Raja yang berkuasa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak didirikan pertama kali memiliki gelar lengkap, yaitu Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Ngalaga Abdurahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang jumeneng kaping … . Terjemahan bebas dari gelar tersebut adalah Yang Mulia Sri Sultan Hamengku Buwono, Pemimpin Tertinggi dalam Peperangan, Pemimpin Tertinggi dalam Agama, Kalifah yang diutus oleh Allah SWT. Kontroversi wacana naiknya GKR. Pembayun ke atas tahta juga berpedoman pada gelar yang telah turun temurun tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika ratu mengemban gelar “sayidin panatagama dan khalifah” yang diartikan sebagai imam. Menurut hukum Islam, Imam haruslah seorang laki-laki. Begitupun juga tercantum dalam Serat Puji yang ditulis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V (1846-1850) mengenai suksesi keraton yang bersandar pada ajaran Islam bahwa syarat untuk menjadi raja adalah harus alim dan bertakwa, jika memungkinkan diambil dari seorang laki-laki. Namun, semua ketentuan itu hanyalah anjuran yang pelaksanaannya dapat dikondisikan sesuai keadaan, bagaimanapun surat-surat itu bukanlah Kitab Suci yang merupakan harga mati. Mengenai gelar keagamaan, jika GKR. Pembayun berhasil menjadi Sultan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengenai gelar keagamaan, gelar tersebut dapat terus dilestarikan dengan mengangkat patih sebagai pelaksana kegiatan keagamaan. Begitupun juga dengan melihat kenyataan di masa depan bahwa gelar raja hanyalah meerupakan simbol kultural, bukan simbol politis, karena itulah masih dipertanyakan apakah fungsi keagamaan masih penting bagi seorang raja.
Terlepas dari kontroversi dan halangan-halangan yang mengiringi wacana naiknya GKR. Pembayun ke atas tahta menjadi Sultan menggantikan ayahnya kelak, seharusnya alasan karena beliau adalah seorang wanita tidak dapat dijadikan alasan utama, karena bagaimanapun juga beliau layak diberi kesempatan untuk berbakti dan memimpin rakyat di tanah kelahirannya sendiri. Jika di dunia internasional telah ada Ratu Elizabeth di Inggris, Perdana Menteri Indira Gandhi di India, bahkan Presiden Megawati di Indonesia, lalu mengapa GKR. Pembayun tidak bisa menjadi seorang pemimpin? manusia tidak dapat hidup dengan hanya berlandaskan mitos. Telah dibuktikan bahwa wanita masa kini bukanlah kaum inferior lagi. Entah nanti apakah GKR. Pembayun menjadi seorang penerus tahta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau tidak karena berbagai alasan yang telah ditetapkan Sultan dan Kerabat Keraton, perlu ditekankan pemahaman kepada masyarakat bahwa segala keputusan yang diambil merupakan keputusan yang terbaik dan sesuai dengan kesepakatan bersama.




FRIZCA ROSDHIANA PUTRI
09/282943/SP/23619
Jurusan Politik dan Pemerintahan
FISIPOL-UGM

Rabu, 05 Januari 2011

Tuhan Mau Saya Belajar, Tuhan Mau Saya Bertahan


Cerita perenungan ini diawali ketika saya mencari buku di Perpustakaan Kota Yogyakarta. Biasanya sih saya ngubek-ngubek rak buku bagian novel atau buku-buku politik. Ga pernah saya menyambangi rak-rak buku bagian agama. Tapi pagi itu ada sesuatu yang mendorong saya untuk datang ke rak tersebut yang pada akhirnya saya akui sebagai bentuk kuasa Tuhan. Saya menemukan sebuah buku yang berjudul “Tuhan, Mengapa Aku Harus ke China?”. Sepintas tak ada yang menarik dari buku tersebut tapi entah kenapa saya meminjamnya juga. Buku itu bercerita tentang pasang surut pengalaman rohani Grace Suryani (penulis) saat dia studi di China. Pada akhirnya buku itu yang membuat saya sadar bahwa pemahaman saya selama ini masih keduniawian dan salah besar.
Jujur saja ya, udah kira-kira tiga bulan ini saya merasa masalah yang saya hadapi terlalu berat. Sebenernya sih akarnya cuma satu, karena saya berpisah dengan orang yang sangat saya sayangi. Tapi gara-gara masalah satu itu, saya menjadi sangat terpuruk dan liat semuanya tuh salah mulu. Saya ngrasa Tuhan nggak adil banget, knapa saya ditempa sebegini kerasnya..?? iman saya naik turun setiap hari.. saya emang bisa ketawa ngakak kalo sama temen-temen saya, tapi begitu sendirian huaa bawaannya mellow terus.. keinget ini itulah, mikir ga adillah, Tanya kenapa jadi kaya gini.. uda negative thinking mulu pokoknya!
Buku ini menyadarkan saya bahwa selama ini saya melihat masalah dan penderitaan dengan kacamata duniawi, saya tidak pernah berpikir bahwa dengan adanya masalah-masalah ini justru semakin menunjukkan kasih Tuhan yang besar kepada saya. Saya merasa ditampar. Saya pun merenung, ya..selama ini saya salah.. Sedikit flashback, hubungan yang saya jalani selama ini bisa dibilang hubungan terlarang sih, hubungan yang nggak seharusnya terjadi, hubungan yang tidak dikehendaki Tuhan, walaupun gitu, kami tetep mempertahankannya nggak peduli hubungan itu sebenernya bergelimang dosa (hahaha). Tanpa saya sadari saya telah menduakan Tuhan, saya “menuhankan” cowo itu, saya begitu bergantung kepadanya hingga ketika semua udah berakhir, saya kayak kehilangan pegangan, ambruk dan hopeless. Tapi saya bertekad untuk mencari Tuhan yang sebenarnya tidak pernah meninggalkan saya. Saya berpegang pada satu keyakinan bahwa setiap orang boleh meninggalkan dan menyakiti saya. Yang saya tahu, Tuhan tidak pernah meninggalkan saya.
Akhirnya saya paham bahwa Tuhan, Bapa saya yang di surga ingin saya belajar dari masalah-masalah ini. Ternyata, banyak juga kenyataan-kenyataan kasih Bapa yang saya alami. Intinya, Bapa memberi masalah-masalah ini kepada saya bukan untuk mempermainkan dan menyiksa saya, tapi Bapa mengajari saya untuk bertahan dan menguji iman saya. Itu semua karena Bapa sayang pada saya, anakNya, Bapa ingin saya lulus ujian tersebut dengan standar Kerajaan Surga, bukan bertahan dengan iman dunia yang tidak stabil. Ketika saya terlalu sering bertanya “Mengapa kau pertemukan kami kalo akhirnya perpisahan itu harus terjadi?” dan selalu “Mengapa?” saya tau pasti Bapa sedang tersenyum dan menyiapkan rencana indah dalam hidup saya (saya tak sabar menunggu rencana itu dinyatakan). Kini saya tau pertanyaan yang tepat ketika masalah-masalah itu menghampiri saya
“Apa yang ingin kau ajarkan kepadaku, Bapa?”
. Saya mencoba bertahan dengan prinsip yang telah Bapa tanamkan dalam hati dan pikiran saya bahwa saya harus memiliki hidup yang lebih berkualitas setelah kepergiannya dalam hidup saya. Kepada Bapa, saya tak menyangkal bahwa saya sungguh-sungguh sakit hati, ibarat kaca, hati saya sudah remuk berkeping-keping. Tapi Bapa, tanpa takut terluka memungutnya dan merangkaikan lagi bahkan menjadi suatu kristal yang indah. Bapa juga yang mengajarkan saya untuk mengampuni mereka (khusunya dia) yang telah menyakiti hati saya, Bapa menjanjikan kelegaan atas pengampunan yang telah saya lepaskan. Saya pun tau bahwa membalas dendam itu tak ada gunanya dan merupakan bagian Bapa, bagian saya adalah mengampuni. Hanya itu.
Terkadang saya malu atas perbuatan yang selama ini saya lakukan, yang telah melukai hati Bapa saya.. bagaimana saya selalu meragukan kasihNya dan berpaling hanya pada kasih manusia yang terbatas. Cowo itu paling pol cuma nembus hujan badai buat ketemu saya.. tapi Bapa? Dengan harga yang terlalu mahal rela mengorbankan Yesus, anakNya sendiri untuk menebus saya dan kalian yang penuh dosa. Kita sering kali tercengang-cengang melihat pengorbanan cowo untuk cewenya, waah..so sweet bgt yah..waa romantisnya.. padahal kita sendiri mengalami hal yg lebih dari itu. Siapa sih kita ini sampai Yesus rela mati untuk kita? Rela mati lho ini.. saya malu sekali setelah menyadari semua ini, bagaimana saya dulu sangat terkesan atas rasa sayang cowo itu kepada saya, bagaimana dia rela memberikan semuanya kepada saya..ternyata semua itu nggak kekal..Cuma cinta Tuhan yang abadi dan saya telah memilikinya..
Hikmah dari semua permasalahan yang saya alami selama ini dapat saya temukan dalam buku ini. Bagaimana Tuhan yang sama bekerja pada diri penulis, begitu juga Tuhan yang sama bekerja dalam hidup saya, demikian juga Tuhan yang sama bekerja dalam diri kalian. Melalui berbagai permasalahan yang terjadi, Tuhan mengajarkan saya bagaimana mengampuni, bagaimana saya memahami Tuhan. mungkin saya sekarang belum memiliki iman yang sempurna, tapi bersamaNya saya akan belajar..belajar untuk taat, belajar untuk setia.. Saya tahu, setiap saya datang kepadaNya, Dia tidak akan pernah menalingkan muka, seperti yang pernah Ia janjikan dalam firmanNya
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Matius 11:28)




Tuhan Memberkati!

Senin, 03 Januari 2011

M A S I H

Saat tanya masih menggumam
Namun sejuta kata tlah menguap
Tak ada arti kau pergi
Tak ada alasan kau meninggalkan
Terdiam duduk dan menangis
Meratapi separuh jiwa yang hilang
Demi kebahagian kau berjanji
Untukmu? Bukan untuk kita pasti
Ketika kenangan terus saja berputar
Hinggap tak mau beranjak
Rasa ini pun tetap sama
Ketika tiap detik terus saja teringat
Mengendap sunyi dalam hati
Cinta ini belum mau pergi
Jarak, ruang, waktu, asa, dan rasa
Memisahkan, bagai dua semesta berbeda
Dan ku hanya bisa berdoa
Semoga kau bahagia di sana..


-------my own room---
-------2.2.11-21:47--