Kamis, 11 Agustus 2011
Ngobrol dengan Tuhan--Tentang Cinta
Tulisan ini merupakan kutipan pertanyaan seorang remaja dalam buku terjemahan “Ngobrol dengan Tuhan” (judul asli Conversation with God For Teens) karya Neale Donald Walsch halaman 146-152.
**Mengapa mencintai seseorang selalu menimbulkan kepedihan? Aku sudah capek disakiti oleh sesuatu yang semestinya memberikan kebahagiaan.
- Tiffany, 18 Tahun
::Mencintai seharusnya tidak menimbulkan kepedihan, Tiffany. Tapi kepedihan itu hampir selalu timbul kalau kamu mencampuradukkan “cinta” dengan “kebutuhan”.
Banyak orang beranggapan bahwa cinta adalah respons yang perlu dipenuhi. Dengan kata lain, kalau kamu bisa memenuhi kebutuhanku, aku mencintaimu.
Aku bisa memahami dari mana manusia mendapatkan gagasan seperti ini, sebab mereka diberitahu bahwa seperti itulah cara kerja Tuhan. Kalau ikamu memenuhi kebutuhan Tuhan, Tuhan menyayangimu. Kalau tidak, Tuhan tidak menyayangimu.
Padahal tidak demikian. Tapi seperti itulah yang diajarkan padamu dan ajaran itu sulit digoyahkan, serta mustahil tidak diacuhkan.
Jadi, kita mulai saja dengan ajaran-ajaran itu.
Tuhan tidak membutuhkan apapun darimu. Aku tidak butuh kamu puja, kamu patuhi, dan kamu datangi dengan cara tertentu, supaya kamu bisa memperoleh keselamatan.
**Wah, itu beda sekali dengan ajaran setiap agama di planet ini.
::Maaf, tapi memang begitulah adanya.
Tuhan adalah Segala Sesuatu. Alpha dan Omega, yang Awal dan yang Akhir, Penggerak yang Tidak Bergerak, Sumber yang Utama, dan Segala Sesuatu yang Ada.
Aku adalah segala sesuatu dan tidak ada apapun yang hidup di luar diri-Ku. Karenanya, sesuai definisi tersebut, Aku tidak membutuhkan apa-apa.
Ingat ini selalu: Tuhan tidak membutuhkan apa-apa.
Oleh karena itu menurut logika yang benar, kalau aku tidak membutuhkan apa-apa, Aku tidak akan menghukum kamu untuk sesuatu yang tidak kamu berikan pada-Ku. Itu termasuk kesetiaan pribadimu, caramu memuja atau datang kepada-Ku, atau bahkan pengakuanmu terhadap keberadaan-Ku.
Aku tidak butuh keberadaan-Ku kamu akui, Aku tidak butuh kamu berdoa kepada-Ku, atau berurusan dengan-ku sama sekali. Dan Aku tidak akan menghukum kamu dalam api neraka abadi kalau kamu tidak melakukan hal-hal di atas itu.
Aku sudah menjelaskan hal ini dalam Bab 10, tapi Aki ingin mengulanginya lagi di sini, kalau-kalau kamu belum sepenuhnya menangkap implikasi dari ucapan-Ku terdahulu—atau mungkin tidak mempercayainya.
Kukatakan: Percayalah.
**Apa hubungan semua ini dengan cinta?
::Sangat erat hubungannya. Manusia mencintai dengan cara yang mereka kenal, karena mereka piker seperti itu pulalah cara Tuhan mencintai. Manusia beranggapan bahwa cinta adalah respons Ilahi yang diberikan karena kebutuhan mereka telah dipenuhi. Padahal tidak demikian.
Cinta bukanlah respons. Cinta adalah keputusan.
Seorang pria bernama Scott Peck menyebutkan hal itu dalam buku berjudul The Road Less Traveled beberapa tahun yang lalu. Akulah yang menginspirasi dia untuk mengatakannya. Aku senang telah memberinya inspirasi itu, sebab kebanyakan orang tidak memahami kebenaran yang luar biasa tersebut.
Kebanyakan orang mengira cinta adalah respons, dan kesimpulan ini mereka ambil dari kesalahpahaman mereka tentang bagaimana dan kenapa Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu bukan karena apa-apa yang kamu lakukan untuk-ku. Aku mencintaimu karena dirimu semata-mata.
Hanya DIRIMU semata-mata.
Kamu bisa memahami? Kamu bisa menangkap maksud-Ku?
Cinta-Ku adalah keputusan, bukan reaksi.
**Ya, kurasa aku bisa memahami. Tapi, apakah itu berarti kami tak bisa berbuat apa pun untuk berusaha mendapatkan cintamu?
::Kamu tidak perlu berusaha mendapatkan cinta-Ku. Kamu sudah memilikinya.
Apakah bunga mawar perlu berusaha mendapatkan siraman hujan?
Apakah es krim perlu “berusaha” supaya kamu sukai?
Es krim tidak berbuat apapun supaya kamu sukai. Dia tampil apa adanya. Es krim ya es krim, dan kamu menyukainya.
Cobalah berpikir seperti ini: kamu adalah es krim bagi Tuhan.
**Manis sekali. Aku suka itu.
::Terima kasih.
Sekarang kamu tahu Aku mencintai dirimu apa adanya, dan Aku tidak memintamu melakukan apa-apa untuk memperoleh cinta-Ku. Aku tidak membutuhkan apapun darimu. Biarlah ini menjadi Model Cinta-mu yang Baru. Cinta memberikan dirinya sendiri tanpa alasan apapun. Cinta bukanlah balas jasa, juga tak bisa digunakan untuk menyogok agar kamu memperoleh sesuatu.
Cinta sejati adalah hasil dari keputusan yang kamu buat, tentang perasaan yang ingin kamu miliki terhadap seseorang. Kalau cinta itu muncul hanya sebagai respons terhadap apa yang dilakukan orang itu, itu sama sekali bukan cinta terhadap sesama, melainkan emosi yang direkayasa.
Saat kamu membuat keputusan untuk mencintai seseorang, sebelum kamu tahu apa yang mungkin mereka lakukan, bisa mereka lakukan, atau akan mereka lakukan untuk kamu atau terhadap dirimu, keputusan itu menjadi sangat penting. Kamu otomatis meningkatkan getaranmu. Maksud-Ku, keseluruhan dirimu jadi mulai bergetar dalam frekuensi yang lebih tinggi, dengan kecepatan yang lebih tinggi pula.
Perasaan cinta itu akan terpancar dari dalam dirimu, seperti cahaya matahari. Orang-orang merasa senang berada di dekatmu, dan mereka jadi merasa senang terhadapmu.
Sekonyong-konyong getaran mereka juga jadi meningkat—dan kemudian kamu mendapati dirimu selaras atau tersinkronkan dengan mereka.
Pada saat itulah hati mulai berdebar-debar, dan bunga-bunga api mulai beterbangan.
**Tapi bagaimana aku bisa memutuskan untuk mencintai seseorang, kalau aku belum tahu apa-apa tentang dia?
::Kamu mencintai orang karena siapa mereka, atau karena siapa kamu?
**Wah, itu pertanyaan sulit.
::Memang. Dan apa jawabanmu?
**Kurasa aku mencintai mereka karena siapa mereka.
::Terima kasih atas kejujuranmu. Sekarang ubahlah alasanmu mencintai mereka. Kalau kamu mencintai seseorang karena siapa dirimu, kamu menunjukkan bahwa kamu tidak membutuhkan apapun dari mereka, dan bahwa cintamu tidak didasarkan pada apa yang bisa kamu peroleh dari mereka.
**Tapi aku butuh sesuatu dari orang-orang yang kucintai. Aku tidak bisa bilang tidak butuh apa-apa dari mereka, sebab kenyataannya aku butuh.
::Tidak, kamu tidak membutuhkan apa pun dari mereka. Kamu cuma mengira mebutuhkannya.
Kamu tidak membutuhkan apapun, dari siapapun, untuk bisa merasa bahagia. Kamu bahkan sudah pernah merasakan kebahagiaan sepernuhnya dalam banyak saat-saat kehidupanmu, sebelum kamu bertemu orang-orang yang sekarang kamu kenal.
**Ya, tapi setelah mengenal mereka, aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Terutama tanpa orang-orang tertentu. Terutama tanpa yang “satu” itu!
::Itu tidak benar, tapi kalau kamu beranggapan demikian, kamu akan merasa benar-benar tidak bisa hidup tanpa mereka. Selanjutnya, kamu akan merasa tidak bahagia. Mula-mula kamu akan meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu tidak bisa hidup tanpa orang tertentu, lalu kamu memutuskan tidak cukup untuk seksedar memiliki orang itu dalam hidupmu. Kamu mesti memiliki orang itu dalam hidupmu dengan cara tertentu. (dia mesti pacarmu. Dia mesti “terikat” padamu).
Setelah itu, kamu akan memutuskan bahwa untuk merasa bahagia, kamu harus memiliki orang itu dengan cara tertentu, sebanyak jangka waktu tertentu—misalnya, setiap kali mereka punya waktu luang. Dengan segera kamu akan membayangkan bahwa untuk merasa bahagia, kamu mesti memiliki orang itu dalam hidupmu dengan cara demikian sepanjang waktu!
Bahkan mungkin kamu akan berkata bahwa kamu “bisa mati” kalau hidup tanpa orang itu. Tentu saja yang kamu maksud “mati” bukan benar-benar “mati”, melainkan bahwa ada satu bagian besar dirimu yang akan “mati” kalau orang itu tidak ada dalam hidupmu.
Nah, ironisnya, demi supaya satu bagian besar dirimu itu tidak mati karena hidup tanpa orang tersebut, kamu justru akan mematikan satu bagian besar dari diri orang tersebut.
Kamu akan mematikan semangatnya.
Kamu akan membuat dia sesak napas dengan cintamu, dan dengan kebutuhanmu akan cinta-nya, hingga dia akan tersedak, dan terbatuk-batuk, lalu dia terpaksa menyingkirkanmu, supaya bisa bertahan hidup.
Dia akan lari menjauh darimu. Dan ini menyedihkan sekali, sebab dia sebenarnya sangat menyukaimu, dan mungkin sebenarnya bisa mencintaimu—tapi dia tak sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu.
**Kok Engkau tau persis? Engkau membuntutiku kemana-mana ya?
::Aku memang tahu. Tapi bukan karena Aku mengikutimu kemana-mana. Aku tahu karena seperti itulah pengalaman cinta sebagian besar manusia. Dan itu karena kalian mencampuradukkan antara “cinta” dengan “kebutuhan”.
Sekarang coba dengar berita bagusnya, ingat ini baik-baik: kamu tidak membutuhkan apa pun di luar dirimu untuk merasa bahagia.
Aku tahu kamu menganggap kamu membutuhkan hal-hal di luar dirimu, walaupun sebenarnya tidak. Itu cuma ilusi. Ilusi perama dari sepuluh ilusi manusia.
Ilusi bahwa kebutuhan itu ada. ilusi bahwa kamu membutuhkan sesuatu atau seseorang di luar dirimu.
Tapi kalau kamu tetap ingin beranggapan demikian, cobalah latihan ini:
1. Tuliskan daftar orang, tempat, dan hal yang menurutmu kamu butuhkan untuk merasa bahagia.
2. Sekarang coba ingat-ingat masa ketika kamu tidak memiliki semua itu, tapi tetap merasa bahagia sepenuhnya.
3. Lalu tanyakan pada dirimu sendiri, “Kenapa sekarang aku menganggap diriku membutuhkan orang ini, tempat ini, atau benda ini untuk bisa merasa bahagia?”
Kalau kamu jujur terhadap dirimu, kamu akan menyadari bahwa kamu tidak membutuhkan semua itu. Kamu mungkin lebih suka menciptakan kebahagiaanmu dengan perangkat tersebut, tapi kamu tidak perlu memaksakannya.
Karena itu, jangan mengubah pilihan menjadi kebutuhan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar