Rabu, 05 Januari 2011

Tuhan Mau Saya Belajar, Tuhan Mau Saya Bertahan


Cerita perenungan ini diawali ketika saya mencari buku di Perpustakaan Kota Yogyakarta. Biasanya sih saya ngubek-ngubek rak buku bagian novel atau buku-buku politik. Ga pernah saya menyambangi rak-rak buku bagian agama. Tapi pagi itu ada sesuatu yang mendorong saya untuk datang ke rak tersebut yang pada akhirnya saya akui sebagai bentuk kuasa Tuhan. Saya menemukan sebuah buku yang berjudul “Tuhan, Mengapa Aku Harus ke China?”. Sepintas tak ada yang menarik dari buku tersebut tapi entah kenapa saya meminjamnya juga. Buku itu bercerita tentang pasang surut pengalaman rohani Grace Suryani (penulis) saat dia studi di China. Pada akhirnya buku itu yang membuat saya sadar bahwa pemahaman saya selama ini masih keduniawian dan salah besar.
Jujur saja ya, udah kira-kira tiga bulan ini saya merasa masalah yang saya hadapi terlalu berat. Sebenernya sih akarnya cuma satu, karena saya berpisah dengan orang yang sangat saya sayangi. Tapi gara-gara masalah satu itu, saya menjadi sangat terpuruk dan liat semuanya tuh salah mulu. Saya ngrasa Tuhan nggak adil banget, knapa saya ditempa sebegini kerasnya..?? iman saya naik turun setiap hari.. saya emang bisa ketawa ngakak kalo sama temen-temen saya, tapi begitu sendirian huaa bawaannya mellow terus.. keinget ini itulah, mikir ga adillah, Tanya kenapa jadi kaya gini.. uda negative thinking mulu pokoknya!
Buku ini menyadarkan saya bahwa selama ini saya melihat masalah dan penderitaan dengan kacamata duniawi, saya tidak pernah berpikir bahwa dengan adanya masalah-masalah ini justru semakin menunjukkan kasih Tuhan yang besar kepada saya. Saya merasa ditampar. Saya pun merenung, ya..selama ini saya salah.. Sedikit flashback, hubungan yang saya jalani selama ini bisa dibilang hubungan terlarang sih, hubungan yang nggak seharusnya terjadi, hubungan yang tidak dikehendaki Tuhan, walaupun gitu, kami tetep mempertahankannya nggak peduli hubungan itu sebenernya bergelimang dosa (hahaha). Tanpa saya sadari saya telah menduakan Tuhan, saya “menuhankan” cowo itu, saya begitu bergantung kepadanya hingga ketika semua udah berakhir, saya kayak kehilangan pegangan, ambruk dan hopeless. Tapi saya bertekad untuk mencari Tuhan yang sebenarnya tidak pernah meninggalkan saya. Saya berpegang pada satu keyakinan bahwa setiap orang boleh meninggalkan dan menyakiti saya. Yang saya tahu, Tuhan tidak pernah meninggalkan saya.
Akhirnya saya paham bahwa Tuhan, Bapa saya yang di surga ingin saya belajar dari masalah-masalah ini. Ternyata, banyak juga kenyataan-kenyataan kasih Bapa yang saya alami. Intinya, Bapa memberi masalah-masalah ini kepada saya bukan untuk mempermainkan dan menyiksa saya, tapi Bapa mengajari saya untuk bertahan dan menguji iman saya. Itu semua karena Bapa sayang pada saya, anakNya, Bapa ingin saya lulus ujian tersebut dengan standar Kerajaan Surga, bukan bertahan dengan iman dunia yang tidak stabil. Ketika saya terlalu sering bertanya “Mengapa kau pertemukan kami kalo akhirnya perpisahan itu harus terjadi?” dan selalu “Mengapa?” saya tau pasti Bapa sedang tersenyum dan menyiapkan rencana indah dalam hidup saya (saya tak sabar menunggu rencana itu dinyatakan). Kini saya tau pertanyaan yang tepat ketika masalah-masalah itu menghampiri saya
“Apa yang ingin kau ajarkan kepadaku, Bapa?”
. Saya mencoba bertahan dengan prinsip yang telah Bapa tanamkan dalam hati dan pikiran saya bahwa saya harus memiliki hidup yang lebih berkualitas setelah kepergiannya dalam hidup saya. Kepada Bapa, saya tak menyangkal bahwa saya sungguh-sungguh sakit hati, ibarat kaca, hati saya sudah remuk berkeping-keping. Tapi Bapa, tanpa takut terluka memungutnya dan merangkaikan lagi bahkan menjadi suatu kristal yang indah. Bapa juga yang mengajarkan saya untuk mengampuni mereka (khusunya dia) yang telah menyakiti hati saya, Bapa menjanjikan kelegaan atas pengampunan yang telah saya lepaskan. Saya pun tau bahwa membalas dendam itu tak ada gunanya dan merupakan bagian Bapa, bagian saya adalah mengampuni. Hanya itu.
Terkadang saya malu atas perbuatan yang selama ini saya lakukan, yang telah melukai hati Bapa saya.. bagaimana saya selalu meragukan kasihNya dan berpaling hanya pada kasih manusia yang terbatas. Cowo itu paling pol cuma nembus hujan badai buat ketemu saya.. tapi Bapa? Dengan harga yang terlalu mahal rela mengorbankan Yesus, anakNya sendiri untuk menebus saya dan kalian yang penuh dosa. Kita sering kali tercengang-cengang melihat pengorbanan cowo untuk cewenya, waah..so sweet bgt yah..waa romantisnya.. padahal kita sendiri mengalami hal yg lebih dari itu. Siapa sih kita ini sampai Yesus rela mati untuk kita? Rela mati lho ini.. saya malu sekali setelah menyadari semua ini, bagaimana saya dulu sangat terkesan atas rasa sayang cowo itu kepada saya, bagaimana dia rela memberikan semuanya kepada saya..ternyata semua itu nggak kekal..Cuma cinta Tuhan yang abadi dan saya telah memilikinya..
Hikmah dari semua permasalahan yang saya alami selama ini dapat saya temukan dalam buku ini. Bagaimana Tuhan yang sama bekerja pada diri penulis, begitu juga Tuhan yang sama bekerja dalam hidup saya, demikian juga Tuhan yang sama bekerja dalam diri kalian. Melalui berbagai permasalahan yang terjadi, Tuhan mengajarkan saya bagaimana mengampuni, bagaimana saya memahami Tuhan. mungkin saya sekarang belum memiliki iman yang sempurna, tapi bersamaNya saya akan belajar..belajar untuk taat, belajar untuk setia.. Saya tahu, setiap saya datang kepadaNya, Dia tidak akan pernah menalingkan muka, seperti yang pernah Ia janjikan dalam firmanNya
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Matius 11:28)




Tuhan Memberkati!

1 komentar:

  1. So inspiring.. Thanks for sharing, frizcha..
    Keep the faith..

    BalasHapus