Senin, 06 Desember 2010

REVIEW TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

FRIZCA ROOSDHIANA PUTRI
09/282943/SP/23619

Arief Budiman dalam tulisannya yang berjudul Teori Pembangunan Dunia Ketiga menjelaskan seluk beluk mengenai teori structural kaitannya dengan hubungan ketergantungan antar negara. Menurut Arief Budiman, teori structural memaparkan bahwa faktor kemajuan suatu masyarakat dan keberhasilan sistem-sistem sosial yang ada bergantung pada lingkungan materialnya. Teori ini merupakan kritik bagi kaum modernis yang berpendapat bahwa kemajuan suatu bangsa bergantung pada etos kerja masyarakatnya. Sedangkan teori ketergantungan yang menjelaskan bahwa antara satu negara dengan negara yang lain memiliki relasi yang kuat dan saling tergantung merupakan kritik atas tesis Marx yang berargumen bahwa kapitalisme menjangkiti hampir semua negara di dunia karena ada dominasi kelas.
Dalam tulisan ini, Arief Budiman menjelaskan adanya ketergantungan antara negara ketiga dengan negara maju. Hal ini dibuktikan dengan adanya proses industrialisasi yang dicanangkan oleh negara maju kepada negara berkembang sebagai prasyarat modernisasi. Sesungguhnya prasyarat ini merupakan suatu taktik agar negara maju dapat menanamkan sahamnya dan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari negara ketiga. Disebutkan bahwa negara di dunia yang terbagi menjadi dua tipe, yaitu negara pusat yang menghasilkan barang-barang industry dan negara pinggiran yang menghasilkan komoditas pertanian. Adanya pembagian ranah kerja ini diharapkan dapat menjadi simbiosis yang menguntungkan bagi masing-masing negara, namun kenyataannya adalah negara industrilah yang paling diuntungkan dengan adanya pembagian ranah kerja ini karena negara penghasil pertanian menjadi sangat bergantung pada negara industry, sehingga negara industry mampu menciptakan monopoli perdagangan seluas-luasnya.
Menurut saya, teori ketergantungan dewasa ini malahan berdampak buruk pada hubungan antar negara-negara di dunia, karena dengan adanya sifat yang sangat bergantung antara negara pinggiran terhadap negara pusat di mana keadaan tersebut dimanfaatkan oleh negara pusat untuk memperkaya dirinya sendiri sehingga terjadi ketimpangan pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara di dunia. Teori ketergantungan juga tidak memposisikan negara sebagai satu-satunya institusi yang sah dalam mengatur kehidupan warga negaranya, teori ini justru mengedepankan kelompok elit dan borjuasi yang berkecimpung dalam praktek-praktek ekonomi. Selain itu, teori ini bukan teori yang solutif karena ketika ketergantungan menjadi suatu hal yang negative, teori ini tidak memberikan langkah-langkah bagaimana suatu negara dapat berhenti bergantung pada negara lain demi kemajuan negara itu sendiri.

REVIEW POLITICAL MAN

Frizca Roosdhiana Putri
09/282943/SP/23619


Bab kedua dan ketiga dari tulisan karangan Lipset yang akan direview ini berjudul Pembangunan Ekonomi dan Demokrasi dan Konflik Sosial, Legitimasi,dan Demokrasi. Menurut Lipset, kedua bab ini akan mempertimbangkan dua karakteristik masyarakat dan hubungannya dengan demokrasi yang stabil: pembangunan ekonomi dan legitimasi. Karakteristik pertama merujuk pada seberapa besar institusi-institusi yang diakui oleh masyarakat; dan kedua, seberapa besar masyarakat menganggap institusi-institusi ini benar dan memang harus ada.
Dalam tulisan ini, dikemukakan pendapat bahwa demokrasi memiliki relasi dengan berbagai macam aspek dalam kehidupan masyarakat, misalnya aspek ekonomi dan aspek historis. Dari kedua aspek tersebut, pembangunan ekonomi memiliki peranan yang sangat kompleks dalam andil berjalannya sistem demokrasi di suatu negara. Keberhasilan pembangunan ekonomi dapat dilihat dari adanya pencapaian indicator dalam suatu negara, yaitu kemakmuran, industrialisasi, urbanisasi, dan pendidikan. Ketika indicator-indikator tersebut dapat tercapai sehingga suatu negara dikatakan sebagai negara yang cukup mapan dalam segi pembangunan ekonomi, maka sistem demokrasi akan berjalan secara efektif di negara tersebut. Sebaliknya, ketika suatu negara belum mampu menguatkan aspek ekonominya, maka akan sulit untuk menjalankan sistem demokrasi yang efektif karena masyarakatnya melulu terfokus pada usaha untuk meningkatkan pembangunan ekonomi bagi dirinya sendiri pada khususnya dan berdampak pula pada perekonomian nasional sehingga bersikap apatis terhadap usaha demokratisasi. Pada bab ketiga tulisan Lipset dipaparkan bahwa selain bergantung pada pertumbuhan ekonomi, stabilitas demokrasi juga bergantung pada efektivitas dan legitimasi sistem politik. Antara efektivitas dan legitimasi saling berbanding lurus, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin efektif suatu negara menjalankan pemerintahannya, maka akan tercipta legitimasi yang kuat atas pemerintahan tersebut. Selain usaha untuk menciptakan pemerintahan yang efektif, pemerintah juga harus dapat meminimalisasi konflik kepentingan antara unsur-unsur yang ada dalam suatu negara yang dapat menyebabkan ketidakstabilan berjalannya sistem demokrasi.
Meski tulisan ini didasarkan atas data-data, bukti, dan studi kasus yang akurat, namun pernyataan Lipset juga menuai kritik. Misalnya ketika pembangunan ekonomi suatu negara dikatakan berhasil, tak memungkiri berakibat munculnya elit-elit baru yang sesungguhnya sangat kontradiktif terhadap perkembangan demokrasi, di mana nilai demokrasi adalah keadilan dan kebebasan, sedangkan elit-elit baru tersebut menguasai sumber-sumber penting yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat banyak. Kemudian untuk menciptakan pemerintahan yang efektif pasti akan ditemui berbagai kendala, diantaranya adalah krisis legitimasi yang seringkali menimbulkan konflik. Terjadinya konflik menyebabkan adanya kegoncangan dalam pelaksanaan pemerintahan, sehingga sulit sekali untuk menciptakan pemerintahan yang efektif.

Selasa, 30 November 2010

KEHILANGAN ..


“Bila kita dapat mengerti sahabat adalah setia, dalam suka dan duka kau kan dapat berbagi rasa untuknya.. begitulah seharusnya jalani kehidupan.. setia, setia, dan tanpa terpaksa..” (soundtrack film ‘Petualangan Sherina’)
“You just call out my name and you know wherever I am, I’ll come running to see you again.. Winter, spring, summer or fall.. All you have to do is call, and I’ll be there.. You’ve got a friend.. (You’ve Got A Friend, McFly)

Aku ingin mengatakan kepada dunia bahwa aku tak mau, aku ingin berteriak menuntut, aku tak sanggup. Namun, tak kuasa aku menyampaikannya. Aku sudah terlalu banyak kehilangan milikku yang paling berharga..haruskah aku kehilangan satu yang kupertahankan dengan setulus hatiku?
Sesungguhnya aku sangat merindukanmu, canda tawamu, tatapan matamu..segala tentangmu..ketika air mata kita tumpah bersama, menangisi segala bahagia dan duka..
Keputusanmu adalah luka untukku dan aku pun tau kau terluka karenanya, tapi apa daya..keadaan yang memaksa kita mengambil keputusan yang berat dan tak memiliki pilihan lain ini..
Aku telah menyiapkan diriku dan hatiku untuk kehilangan cintamu, tapi sungguh aku tak mampu jika aku kehilangan dirimu sebagai sahabat yang sangat kukasihi, sahabat tempatku berbagi semua yang kurasa dan kumiliki.. salahkah aku bila aku menahanmu pergi? Salahkah aku bila mengenang semua yang pernah terjadi dalam persahabatan kita?
Aku disini menantimu siap, sahabatku..siap untuk kembali lagi dalam pelukanku sebagai seorang sahabat dengan jiwa yang saling bertaut.. siap untuk menghadapi segala keceriaan dan tangis seperti yang pernah kita bagi dulu.. siap untuk mendengar dan didengarkan..
Saat ini kau boleh berpaling dariku dengan air matamu.. kau boleh pergi dan menikmati kehidupanmu tanpa aku, satu yang kumohon.. kenanglah aku walau sejenak..dan kembalilah padaku suatu saat nanti..suatu saat nanti, sahabatku.. aku menunggumu..

Sabtu, 27 November 2010

Suatu Ketika..

Ada kelegaan tersendiri saat aku sedikit berbicara dengannya dan semua ternyata tidak sesuai seperti yg aku harapkan.. aku bahagia bisa tau apa yg sebenarnya terjadi.. tak memungkiri bahwa air mata ini sempat jatuh..entah setetes atau dua tetes..bukan bertetes-tetes..sempat ada rasa sakit yang menggelayut nyeri di ulu hatiku.. tapi ternyata aku bisa tegar juga.. hahaha aku kuat nih apapun yang terjadi aku bisa menerimanya dengan lapang dada..
Dia memintaku untuk sabar menunggu untuk memulai hubungan sebagai seorang sahabat.. ya, aku mengerti.. dia kini bukan milikku lagi, dia kini milik orang lain dan seharusnya aku sudah tak memiliki hak apapun atas dirinya..kadang aku lupa akan hal itu.. mungkin dia meminta kesempatan untuk memulihkan hatinya yang sempat terluka saat kami berpisah..dulu..dulu..aku harus memberinya kesempatan untuk bahagia seperti yang pernah dia lakukan untuk aku..
Sebagai seorang (yg terus mencoba menjadi ) sahabat, aku bisa mengerti keinginannya.. bagaimanapun juga semua rasa dan kenangan yang pernah terjadi antara kami berdua sudah kukubur dalam-dalam..dan aku menganggapnya sebagai suatu noda dalam persahabatan kami yang tak perlu diingat lagi.. jadi, kini aku akan tegar seperti keinginan yang pernah dia ucapkan.. aku akan menunggunya layaknya sahabat yang pengertian..
Memang aku kini sendiri..tanpa sahabatku..tapi akan kupenuhi permintaannya supaya aku menjadi sosok yang tegar dalam hidup..hati ini selalu ada untuknya, sahabat yang sangat aku sayangi..dan selamanya tempatnya tak akan pernah terganti oleh orang lain,
Aku bahagia untuknya.. aku disini selalu berdoa untuknya..

Dia sahabatku.. kekasihku dulu..

Jumat, 26 November 2010

Kajian Pendekatan Rasionalisme dalam Hasil Survei “Peta Politik 2009 Masih Akan Berubah”

Frizca Roosdhiana Putri
09/282943/SP/23619


Pendekatan rasional merupakan suatu teori yang muncul sebagai antithesis dari paham naturalism. Paham ini merupakan model penjelasan dari tindakan-tindakan manusia, dimaksudkan untuk memberikan analisa formal dari pengambilan keputusan rasional berdasarkan sejumlah kepercayaan dan tujuan, serta menggabungkan beberapa area teori ekonomi, teori kemungkinan, game theory, dan teori public goods. Pada dasarnya mazhab ini meminjam dari pendekatan dalam ilmu ekonomi di mana dalam berperilaku, manusia sebagai aktor menetapkan tujuan dan sarana apa yang ingin digunakan dan selalu berusaha untuk mengejar kepentingan yang menguntungkan dirinya sendiri (egoistic). Suatu tindakan dapat dikatakan sebagai tindakan rasional apabila dapat mencapai tujuan akhir dan memanfaatkan segala sarana yang bisa digunakan.
Teori pilihan rasional (rational choice) dapat digunakan dalam mengkaji survey perilaku pemilih. Seperti survey yang dilakukan oleh LIPI dan FISIPOL UGM yang berjudul “Peta Politik 2009 Masih Akan Berubah”, dapat disimpulkan bahwa calon pemilih yang akan mengikuti pemilu legislative maupun pemilu presiden misalnya, mayoritas belum dapat memastikan calon yang akan dipilih, bahkan beberapa responden malahan tidak tau menahu mengenai waktu dilaksanakannya pemilu tersebut. Berdasarkan survey ini, sikap apatis masih mendominasi perilaku calon pemilih. Meskipun demikian, 95% responden mengaku akan memilih, hal ini menunjukan bahwa tingkat partisipasi dalam pemilu 2009 pun tinggi.
Dewasa ini, pemilih menggunakan pertimbangan rasional dalam menentukan calon pilihannya, yaitu berdasarkan informasi yang didapat, tidak hanya karena faktor kedekatan, status sosial, atau jenjang pendidikan. Para calon pemilih memilih calon yang sekiranya membawa dampak yang positif bagi diri pemilih tersebut, misalnya para pengusaha penerbit buku ajar bagi siswa sekolah tidak akan memilih kembali presiden SBY sebagai presiden di masa jabatan yang kedua karena terbukti kebijakannya yang menetapkan penggunaan buku online yang bisa diunduh secara gratis menghambat usaha yang mereka jalani dan melemahkan perekonomian mereka. Sebaliknya, para pemilih yang merupakan pebisnis atau pengusaha mendukung majunya Jusuf Kalla sebagai calon presiden karena diyakini dapat membawa angin segar terhadap usaha bisnis yang mereka tekuni. Begitupun dengan calon-calon lain seperti Megawati, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan lain-lain yang diusung oleh konstituen dengan berbagai kepentingan yang pragmatis.
Demikian juga halnya dalam pemilihan calon anggota legislative, mayoritas para pemilih menentukan pilihan pada partai karena mereka belum mengenal dengan baik sang calon legislative. Partai yang menjadi incaran pemilih adalah partai yang sudah terbukti bersih dengan program-program yang menjanjikan, maupun memilih partai berdasarkan figure yang menjadi aktor penting dalam partai tersebut. Para pemilih tidak akan memilih calon kandidat atau partai berdasarkan informasi yang tidak jelas, kecuali calon pemilih tersebut tidak menggunakan pertimbangan rasional dan bersikap apatis terhadap pelaksanaan pemilu.
Pertimbangan rasional yang dipakai pemilih dalam menentukan pilihannya inilah yang menyebabkan ramalan akan hasil pemilu legislative dan pemilu presiden tahun 2009 terkesan masih meraba-raba dan belum dapat ditebak hasilnya. Dengan menggunakan pertimbangan rasional, pemilih membutuhkan waktu untuk menentukan pilihannya dengan cara mengkaji keuntungan-keuntungan yang didapat ketika pilihan sudah ditentukan.

REVIEW Politicising Democracy: Local Politics and Democratization in Developing, Chapter 3: Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand, and In

Frizca Roosdhiana Putri
09/282943/SP/23619

Tulisan yang dibuat oleh T. Sidel ini pada umumnya membahas elit lokal yang terdapat di negara dunia ketiga, khususnya Asia Tenggara. Tujuan penulisan karangan ini adalah untuk mengkritisi argumen Joel Migdal yang memandang Local Strongmen sebagai kebiasaan yang sistematis dan memberi alternatif kerangka berfikir baru bagi para sarjana dan ahli politik dalam menganalisa kasus elit lokal yang terdapat dalam sebuah negara di mana analisa tersebut memusatkan perhatian terhadap adanya peluang elit lokal dalam mengakumulasi dan memonopolisasi ekonomi lokal dan kekuatan politik yang sangat berpengaruh terhadap struktur makro dan mikro suatu negara. Kerangka berfikir ini tidak hanya menjelaskan saat di mana elit lokal mulai timbul dan membentuk suatu kubu pertahanan bagi diri sendiri maupun kelompok mereka, namun juga menjelaskan bagaimana bentuk menyimpang dari peraturan-peraturan yang dibuat oleh elit lokal sendiri untuk mempertahankan kedudukan mereka yang diasumsikan sebagai konteks institusional yang berbeda. Sangat kontras dengan argumen yang disampaikan oleh Joel Migdal bahwa elit lokal muncul dan tumbuh subur di negara dunia ketiga dengan cara memanfaatkan kelemahan negara tersebut, sehingga dengan mudah mengambil kesempatan untuk membangun suatu jaringan masyarakat yang wajar dan otonom. Jaringan masyarakat ini sangat mempengaruhi aspek politik, sosial, dan ekonomi dalam masyarakat. Para elit lokal ini sukses memegang peranan penting dalam kontrol sosial dan mempertahankan kedudukannya melalui peraturan yang dibuatnya sendiri daripada mengemukakan aturan dalam retorik resmi, pernyataan politik, dan merancang undang-undang (Migdal 1988:256). Pola khusus dari kontrol sosial yang diterapkan oleh elit lokal ini terfragmentasikan secara efektif sehingga elit lokal menikmati berbagai macam keistimewaan dan keuntungan di atas pemimpin-pemimpin negara dan birokrat lokal. Hal ini dipetakan oleh Joel Migdal sebagai sebuah “Segitiga Akomodasi” di mana elit lokal menawarkan bagian-bagian yang penting yang disebut sebagai “Strategi Pertahanan” dengan cara berusaha memuaskan kebutuhan dan tuntutan pendukungnya. Intinya, tulisan ini ingin menunjukan variasi lain dari Local Strongman yang dikemukakan oleh Migdal dan berbagai dinamikanya dengan studi kasus di kawasan Asia Tenggara, yaitu negara Filipina, Thailand, dan Indonesia.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah bahwa elit lokal muncul tidak hanya karena negara yang lemah, namun juga kekuatan-kekuatan lokal yang memiliki ketahanan melebihi negara. Kekuatan lokal ini terdiri bermacam variasi, antara lain bossism, klan, dan oligarkhi. Elit lokal yang ada dalam suatu negara sangat mempengaruhi berjalannya struktur pemerintahan di negara tersebut, terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Para elit lokal tak jarang menggunakan cara yang ilegal dalam mewujudkan keinginannya, seperti pembelian suara, kecurangan pemilu, dan menyuap aparatur negara. Dalam bidang ekonomi, local strongmen memonopoli sumber daya yang ada dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan pribadi dan pendukungnya. Menilik isu demokrasi dan desentralisasi daerah yang diusung beberapa dekade terakhir ini, elit lokal berasa mendapatkan angin segar, di mana pemerintahan dan kekuasaan tidak hanya dipegang oleh satu tangan saja, yaitu pemerintah pusat. Kondisi ini malahan memantapkan posisi mereka sebagai suatu bagian dari masyarakat yang memiliki kekuatan untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya. Dalam kasus yang terjadi di Filipina, Thailand, dan Indonesia, elit lokal yang muncul juga dipengaruhi oleh sikap dari penjajahan sebelumnya terhadap para penguasa lokal. Hal inilah yang membuat kasus elit lokal mengakar kuat pada masing-masing negara.
Pendapat saya mengenai tulisan ini adalah bahwa elit lokal yang terdapat dalam suatu negara membentuk kekuatan politik yang sifatnya formal dan informal yang diimplementasikan secara langsung maupun tidak langsung ke dalam struktur pemerintahan suatu negara. Elit lokal ini selain menguasai sektor-sektor penting dalam kehidupan masyarakat, juga mendorong perekonomian menuju ke arah kapitalis yang menguntungkan bagi mereka. Elit lokal tidak dapat dimusnahkan karena sifatnya yang mengungguli pemerintahan yang sah. Tak jarang untuk memperoleh posisi yang strategis dan mempertahankan kekuasaan, mereka melakukan cara kekerasan, baik mental maupun fisik. Sebagai contoh adalah mengakarnya kelompok Jawara di Banten yang dapat dikatakan sebagai penguasa bayangan segala aspek kehidupan masyarakat di Banten, baik aspek politik-pemerintahan, sosial, budaya, dan terutama ekonomi. Misalnya dalam hal pemilihan kepala daerah, untuk mempertahankan posisinya, Jawara di banten mengusung calon yang dengan pasti akan menjamin semua kegiatan dan keinginan Jawara terlaksana. Niatan tersebut dibarengi dengan upaya untuk mewujudkannya, bahkan dengan cara kekerasan. Dalam aspek ekonomi, Jawara di Banten yang terhitung sangat mapan dalam kehidupan ekonomi terus berusaha memperkaya dirinya sendiri dengan cara memenangkan tender-tender proyek dari pemerintah. Tentu saja proses lobbying ini dilakukan dengan cara yang ilegal. Karena sifatnya yang berbentuk klan dan keberlangsungan generasinya terjamin, elit lokal ini susah dihilangkan. Selain itu juga karena elit lokal ini memastikan kenyamanan dan posisi yang strategis bagi para pendukungnya, dan sebaliknya akan membuat perhitungan bagi para lawan-lawannya, maka elit lokal bertahan sebagai kelompok masyarakat yang patut diperhitungkan bagi berjalannya politik dan pemerintahan suatu negara.
Tulisan T. Sidel yang berjudul Politicising Democracy: Local Politics and Democratization in Developing, Chapter 3: Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand, and Indonesia: Towards an Alternative Framework for the Study of ‘Local Strongmen’ ini sangat relevan dengan materi Dinamika Politik Lokal: Dari Orang Kuat, Klan, Hingga Oligarkhi karena mengupas dengan tuntas mengenai elit lokal yang berkuasa di suatu negara yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi struktur makro dan mikro negara tersebut. Tulisan ini juga membahas pendapat ahli lain mengenai Local Strongmen sehingga mampu memberikan perbandingan yang menyeluruh terhadap fenomena elit lokal yang ada dalam suatu negara.

Jumat, 19 November 2010

Perjalanan

Hanya sedetik kilat yang menyambar
Cepat dan berbekas
Perjalanan ini kulalui bersamamu
Di tengah deru abu yang iringi putaran langkah
Sejauh mata memandang
Hanya ada senyuman dan tatapanmu
Tak ingin aku beranjak
Tak ingin ini berakhir
Yang kumau hanyalah bersamamu
Mungkinkah kau sadari itu
Ketika kurasakan cinta yang tak semestinya
Ketika perjalanan ini menjadi saksi dilema yang terjadi
Sanggupkah kau bertahan dengan keputusanmu
Dan..menafikan aku?
Perjalanan ini, sayang..
Kuyakin akan selalu kurindukan
Ketika abu memang bukan biru atau merah jambu
Namun tetap berwarna untukku..

(Love in Disaster,Nov2010)

Lagi

Kala surya meredupkan cahaya
Seketika gelap dunia, gulita
Kelam malam datang
Memaku hati penuh bimbang
Sendiri tak kubenci
Bukan sepi..
Tapi dikhianati!
Sakitnya tak terperi
Hanya luka terpatri
Lalu setitik terang terbias
Ternyata..
Bintang itu cinta lagi..

Senin, 01 November 2010

bertemu lagi...dengan mimpi-mimpi..

oke..setelah sekian lama ga nge-blog..saya datang lagi..entah dengan motif apa..
banyak bgt yang uda terjadi..banyak yang uda berubah..
sekarang saya mau mencoba membagi mimpi2 saya yaaa..semoga dgn dibagi akan lebih cepat diraih..hahahahaha
dan..mimpi-mimpi saya adalah..
1. IP yg tinggi, kerjain tugas2 dgn baik dan benar dan cepat lulus kuliah
2. wisuda..seneng ngebayangin senyum bapak ibu saat nama saya dipanggil sebagai S.IP
3. kerja di DepLu..atau awal2 di Pemprov dulu dehhh..
4. kuliah S2 HAM dan Demokrasi di Singapore..
5. pengen aktif PSM UGM lagi..pengen nyanyi
6. oh iyaa...saya pengen dapat calon suami yang baik, seideologi, bisa diajak diskusi, dan tampan..hahaha ko subyektif mengarah pada satu target ya..wakawaka

yaa.. begitulah.. sempat saat dikhianati oleh orang yang sangat saya sayangi, saya merasa hidup ini tak ada artinya lagi, tapi setelah diselami..saat saya masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup nafas kebesaranNya, saya tau Dia pasti memberikan saya yang terbaik dalam hidup ini.. semangaaattt!!

Minggu, 17 Januari 2010

As Long As I Have Music

When the world seems far beyond me
And I have no place to go
When my life seems cold and empty
And I feel I'm all alone
Then a song that I remember
Helps to ease my troubled mind
And I find the strength within me
To reach out just one more time

For as long as I have music
As long as there's a song for me to sing
I can find my way, I can see a brighter day
The music in my life will set my spirit free..

When the road is dark and lonely
And I feel I want to cry
When the dreams I keep inside me
Seem to fade and almost die
Then I call upon my music
And it helps to dry my tears
And I know that I can make it
I'll go on despite my fears

For as long as I have music
As long as there's a song for me to sing
I can find my way, I can see a brighter day
The music in my life will set my spirit free..

Jumat, 08 Januari 2010

Sebuah Rasa..

07 Januari 2010 07:39pm

Sebuah rasa..
Dan air mata ini jatuh lagi..entah untuk yang kesekian kalinya.. tak pernah berfikir kau salah.. semua hanya ketidakwajaran saja.. memang lelah.. aku ingin menyerah.. tapi tak dapat kupungkiri bahwa rasa ini masih ada.. memenuhi seluruh ruang hati ini, ingin meledak rasanya saat rasa itu tak dapat diungkapkan.. haruskah aku terus berpura-pura tak terjadi apa-apa?

Apa yang membuatku bertahan? Rasa ini begitu indah namun menyakitkan.. Aku tak bisa berbohong aku merasakan rasa sakit yang amat dalam saat ku menyadari bahwa takkan bisa bersama orang yang sangat kusayangi..itu adalah hal yang wajar.. aku tak mau munafik..ya, aku sakit..tak pernah sesakit ini.. kenapa? Karena aku sangat menyayangimu.. Namun, apakah kau harus tahu rasa sakit ini? Tak akan aku ungkapkan kepadamu rasa sakit ini, aku tak mau melihat sinar matamu meredup kecewa.. senyummu adalah satu hal yang membuatku bertahan menghadapi semua ini.. senyum yang indah..tawa yang menyenangkan.. hh..begitu sulit suatu saat nanti tuk melupakannya.. Dan matamu..satu-satunya yang membuatku mengerti betapa kau juga sangat menyayangiku, tanpa sepatah katapun darimu aku tahu rasa itu juga ada dalam hatimu..

Entah apa yang kunanti kini.. saat pengakuan tak mungkin kudapat.. terngiang kata-katamu..”ini milik kita dan hanya kita yang tahu.." dan aku tak membantah.. kau benar, tapi kau lupa bahwa dunia ini tak hanya milik kita.. Semua yang ada di dunia ini memiliki relasi satu sama lain, yang saling berhubungan dan membentuk bermacam spekulasi tentang kita.. Aku yakin rasa ini tak terlarang, aku yakin rasa ini tak salah, rasa ini hanya menyimpan misteri tentang masa depan..hampir tak punya masa depan, namun ingatlah, kita punya Tuhan yang Maha Segala.. satu-satunya di mana kita menaruh harap, tempat bergantung dan melafalkan semua doa demi kebaikan hubungan ini.. Tuhan hanya berfirman dan semua terjadilah menurut kehendakNYA..pasti yang terbaik untuk kita.. Percayalah dalam memohon dan berikhlas hati.. meski sedikit, keikhlasan akan sangat membantu kita untuk menjalani semua ini..
Sebuah rasa itu.. rasa yang dalam dari lubuk hatiku..bahwa aku sangat menyayangimu..