Jumat, 26 November 2010

Kajian Pendekatan Rasionalisme dalam Hasil Survei “Peta Politik 2009 Masih Akan Berubah”

Frizca Roosdhiana Putri
09/282943/SP/23619


Pendekatan rasional merupakan suatu teori yang muncul sebagai antithesis dari paham naturalism. Paham ini merupakan model penjelasan dari tindakan-tindakan manusia, dimaksudkan untuk memberikan analisa formal dari pengambilan keputusan rasional berdasarkan sejumlah kepercayaan dan tujuan, serta menggabungkan beberapa area teori ekonomi, teori kemungkinan, game theory, dan teori public goods. Pada dasarnya mazhab ini meminjam dari pendekatan dalam ilmu ekonomi di mana dalam berperilaku, manusia sebagai aktor menetapkan tujuan dan sarana apa yang ingin digunakan dan selalu berusaha untuk mengejar kepentingan yang menguntungkan dirinya sendiri (egoistic). Suatu tindakan dapat dikatakan sebagai tindakan rasional apabila dapat mencapai tujuan akhir dan memanfaatkan segala sarana yang bisa digunakan.
Teori pilihan rasional (rational choice) dapat digunakan dalam mengkaji survey perilaku pemilih. Seperti survey yang dilakukan oleh LIPI dan FISIPOL UGM yang berjudul “Peta Politik 2009 Masih Akan Berubah”, dapat disimpulkan bahwa calon pemilih yang akan mengikuti pemilu legislative maupun pemilu presiden misalnya, mayoritas belum dapat memastikan calon yang akan dipilih, bahkan beberapa responden malahan tidak tau menahu mengenai waktu dilaksanakannya pemilu tersebut. Berdasarkan survey ini, sikap apatis masih mendominasi perilaku calon pemilih. Meskipun demikian, 95% responden mengaku akan memilih, hal ini menunjukan bahwa tingkat partisipasi dalam pemilu 2009 pun tinggi.
Dewasa ini, pemilih menggunakan pertimbangan rasional dalam menentukan calon pilihannya, yaitu berdasarkan informasi yang didapat, tidak hanya karena faktor kedekatan, status sosial, atau jenjang pendidikan. Para calon pemilih memilih calon yang sekiranya membawa dampak yang positif bagi diri pemilih tersebut, misalnya para pengusaha penerbit buku ajar bagi siswa sekolah tidak akan memilih kembali presiden SBY sebagai presiden di masa jabatan yang kedua karena terbukti kebijakannya yang menetapkan penggunaan buku online yang bisa diunduh secara gratis menghambat usaha yang mereka jalani dan melemahkan perekonomian mereka. Sebaliknya, para pemilih yang merupakan pebisnis atau pengusaha mendukung majunya Jusuf Kalla sebagai calon presiden karena diyakini dapat membawa angin segar terhadap usaha bisnis yang mereka tekuni. Begitupun dengan calon-calon lain seperti Megawati, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan lain-lain yang diusung oleh konstituen dengan berbagai kepentingan yang pragmatis.
Demikian juga halnya dalam pemilihan calon anggota legislative, mayoritas para pemilih menentukan pilihan pada partai karena mereka belum mengenal dengan baik sang calon legislative. Partai yang menjadi incaran pemilih adalah partai yang sudah terbukti bersih dengan program-program yang menjanjikan, maupun memilih partai berdasarkan figure yang menjadi aktor penting dalam partai tersebut. Para pemilih tidak akan memilih calon kandidat atau partai berdasarkan informasi yang tidak jelas, kecuali calon pemilih tersebut tidak menggunakan pertimbangan rasional dan bersikap apatis terhadap pelaksanaan pemilu.
Pertimbangan rasional yang dipakai pemilih dalam menentukan pilihannya inilah yang menyebabkan ramalan akan hasil pemilu legislative dan pemilu presiden tahun 2009 terkesan masih meraba-raba dan belum dapat ditebak hasilnya. Dengan menggunakan pertimbangan rasional, pemilih membutuhkan waktu untuk menentukan pilihannya dengan cara mengkaji keuntungan-keuntungan yang didapat ketika pilihan sudah ditentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar