Selasa, 30 November 2010
KEHILANGAN ..
“Bila kita dapat mengerti sahabat adalah setia, dalam suka dan duka kau kan dapat berbagi rasa untuknya.. begitulah seharusnya jalani kehidupan.. setia, setia, dan tanpa terpaksa..” (soundtrack film ‘Petualangan Sherina’)
“You just call out my name and you know wherever I am, I’ll come running to see you again.. Winter, spring, summer or fall.. All you have to do is call, and I’ll be there.. You’ve got a friend.. (You’ve Got A Friend, McFly)
Aku ingin mengatakan kepada dunia bahwa aku tak mau, aku ingin berteriak menuntut, aku tak sanggup. Namun, tak kuasa aku menyampaikannya. Aku sudah terlalu banyak kehilangan milikku yang paling berharga..haruskah aku kehilangan satu yang kupertahankan dengan setulus hatiku?
Sesungguhnya aku sangat merindukanmu, canda tawamu, tatapan matamu..segala tentangmu..ketika air mata kita tumpah bersama, menangisi segala bahagia dan duka..
Keputusanmu adalah luka untukku dan aku pun tau kau terluka karenanya, tapi apa daya..keadaan yang memaksa kita mengambil keputusan yang berat dan tak memiliki pilihan lain ini..
Aku telah menyiapkan diriku dan hatiku untuk kehilangan cintamu, tapi sungguh aku tak mampu jika aku kehilangan dirimu sebagai sahabat yang sangat kukasihi, sahabat tempatku berbagi semua yang kurasa dan kumiliki.. salahkah aku bila aku menahanmu pergi? Salahkah aku bila mengenang semua yang pernah terjadi dalam persahabatan kita?
Aku disini menantimu siap, sahabatku..siap untuk kembali lagi dalam pelukanku sebagai seorang sahabat dengan jiwa yang saling bertaut.. siap untuk menghadapi segala keceriaan dan tangis seperti yang pernah kita bagi dulu.. siap untuk mendengar dan didengarkan..
Saat ini kau boleh berpaling dariku dengan air matamu.. kau boleh pergi dan menikmati kehidupanmu tanpa aku, satu yang kumohon.. kenanglah aku walau sejenak..dan kembalilah padaku suatu saat nanti..suatu saat nanti, sahabatku.. aku menunggumu..
Sabtu, 27 November 2010
Suatu Ketika..
Ada kelegaan tersendiri saat aku sedikit berbicara dengannya dan semua ternyata tidak sesuai seperti yg aku harapkan.. aku bahagia bisa tau apa yg sebenarnya terjadi.. tak memungkiri bahwa air mata ini sempat jatuh..entah setetes atau dua tetes..bukan bertetes-tetes..sempat ada rasa sakit yang menggelayut nyeri di ulu hatiku.. tapi ternyata aku bisa tegar juga.. hahaha aku kuat nih apapun yang terjadi aku bisa menerimanya dengan lapang dada..
Dia memintaku untuk sabar menunggu untuk memulai hubungan sebagai seorang sahabat.. ya, aku mengerti.. dia kini bukan milikku lagi, dia kini milik orang lain dan seharusnya aku sudah tak memiliki hak apapun atas dirinya..kadang aku lupa akan hal itu.. mungkin dia meminta kesempatan untuk memulihkan hatinya yang sempat terluka saat kami berpisah..dulu..dulu..aku harus memberinya kesempatan untuk bahagia seperti yang pernah dia lakukan untuk aku..
Sebagai seorang (yg terus mencoba menjadi ) sahabat, aku bisa mengerti keinginannya.. bagaimanapun juga semua rasa dan kenangan yang pernah terjadi antara kami berdua sudah kukubur dalam-dalam..dan aku menganggapnya sebagai suatu noda dalam persahabatan kami yang tak perlu diingat lagi.. jadi, kini aku akan tegar seperti keinginan yang pernah dia ucapkan.. aku akan menunggunya layaknya sahabat yang pengertian..
Memang aku kini sendiri..tanpa sahabatku..tapi akan kupenuhi permintaannya supaya aku menjadi sosok yang tegar dalam hidup..hati ini selalu ada untuknya, sahabat yang sangat aku sayangi..dan selamanya tempatnya tak akan pernah terganti oleh orang lain,
Aku bahagia untuknya.. aku disini selalu berdoa untuknya..
Dia sahabatku.. kekasihku dulu..
Dia memintaku untuk sabar menunggu untuk memulai hubungan sebagai seorang sahabat.. ya, aku mengerti.. dia kini bukan milikku lagi, dia kini milik orang lain dan seharusnya aku sudah tak memiliki hak apapun atas dirinya..kadang aku lupa akan hal itu.. mungkin dia meminta kesempatan untuk memulihkan hatinya yang sempat terluka saat kami berpisah..dulu..dulu..aku harus memberinya kesempatan untuk bahagia seperti yang pernah dia lakukan untuk aku..
Sebagai seorang (yg terus mencoba menjadi ) sahabat, aku bisa mengerti keinginannya.. bagaimanapun juga semua rasa dan kenangan yang pernah terjadi antara kami berdua sudah kukubur dalam-dalam..dan aku menganggapnya sebagai suatu noda dalam persahabatan kami yang tak perlu diingat lagi.. jadi, kini aku akan tegar seperti keinginan yang pernah dia ucapkan.. aku akan menunggunya layaknya sahabat yang pengertian..
Memang aku kini sendiri..tanpa sahabatku..tapi akan kupenuhi permintaannya supaya aku menjadi sosok yang tegar dalam hidup..hati ini selalu ada untuknya, sahabat yang sangat aku sayangi..dan selamanya tempatnya tak akan pernah terganti oleh orang lain,
Aku bahagia untuknya.. aku disini selalu berdoa untuknya..
Dia sahabatku.. kekasihku dulu..
Jumat, 26 November 2010
Kajian Pendekatan Rasionalisme dalam Hasil Survei “Peta Politik 2009 Masih Akan Berubah”
Frizca Roosdhiana Putri
09/282943/SP/23619
Pendekatan rasional merupakan suatu teori yang muncul sebagai antithesis dari paham naturalism. Paham ini merupakan model penjelasan dari tindakan-tindakan manusia, dimaksudkan untuk memberikan analisa formal dari pengambilan keputusan rasional berdasarkan sejumlah kepercayaan dan tujuan, serta menggabungkan beberapa area teori ekonomi, teori kemungkinan, game theory, dan teori public goods. Pada dasarnya mazhab ini meminjam dari pendekatan dalam ilmu ekonomi di mana dalam berperilaku, manusia sebagai aktor menetapkan tujuan dan sarana apa yang ingin digunakan dan selalu berusaha untuk mengejar kepentingan yang menguntungkan dirinya sendiri (egoistic). Suatu tindakan dapat dikatakan sebagai tindakan rasional apabila dapat mencapai tujuan akhir dan memanfaatkan segala sarana yang bisa digunakan.
Teori pilihan rasional (rational choice) dapat digunakan dalam mengkaji survey perilaku pemilih. Seperti survey yang dilakukan oleh LIPI dan FISIPOL UGM yang berjudul “Peta Politik 2009 Masih Akan Berubah”, dapat disimpulkan bahwa calon pemilih yang akan mengikuti pemilu legislative maupun pemilu presiden misalnya, mayoritas belum dapat memastikan calon yang akan dipilih, bahkan beberapa responden malahan tidak tau menahu mengenai waktu dilaksanakannya pemilu tersebut. Berdasarkan survey ini, sikap apatis masih mendominasi perilaku calon pemilih. Meskipun demikian, 95% responden mengaku akan memilih, hal ini menunjukan bahwa tingkat partisipasi dalam pemilu 2009 pun tinggi.
Dewasa ini, pemilih menggunakan pertimbangan rasional dalam menentukan calon pilihannya, yaitu berdasarkan informasi yang didapat, tidak hanya karena faktor kedekatan, status sosial, atau jenjang pendidikan. Para calon pemilih memilih calon yang sekiranya membawa dampak yang positif bagi diri pemilih tersebut, misalnya para pengusaha penerbit buku ajar bagi siswa sekolah tidak akan memilih kembali presiden SBY sebagai presiden di masa jabatan yang kedua karena terbukti kebijakannya yang menetapkan penggunaan buku online yang bisa diunduh secara gratis menghambat usaha yang mereka jalani dan melemahkan perekonomian mereka. Sebaliknya, para pemilih yang merupakan pebisnis atau pengusaha mendukung majunya Jusuf Kalla sebagai calon presiden karena diyakini dapat membawa angin segar terhadap usaha bisnis yang mereka tekuni. Begitupun dengan calon-calon lain seperti Megawati, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan lain-lain yang diusung oleh konstituen dengan berbagai kepentingan yang pragmatis.
Demikian juga halnya dalam pemilihan calon anggota legislative, mayoritas para pemilih menentukan pilihan pada partai karena mereka belum mengenal dengan baik sang calon legislative. Partai yang menjadi incaran pemilih adalah partai yang sudah terbukti bersih dengan program-program yang menjanjikan, maupun memilih partai berdasarkan figure yang menjadi aktor penting dalam partai tersebut. Para pemilih tidak akan memilih calon kandidat atau partai berdasarkan informasi yang tidak jelas, kecuali calon pemilih tersebut tidak menggunakan pertimbangan rasional dan bersikap apatis terhadap pelaksanaan pemilu.
Pertimbangan rasional yang dipakai pemilih dalam menentukan pilihannya inilah yang menyebabkan ramalan akan hasil pemilu legislative dan pemilu presiden tahun 2009 terkesan masih meraba-raba dan belum dapat ditebak hasilnya. Dengan menggunakan pertimbangan rasional, pemilih membutuhkan waktu untuk menentukan pilihannya dengan cara mengkaji keuntungan-keuntungan yang didapat ketika pilihan sudah ditentukan.
09/282943/SP/23619
Pendekatan rasional merupakan suatu teori yang muncul sebagai antithesis dari paham naturalism. Paham ini merupakan model penjelasan dari tindakan-tindakan manusia, dimaksudkan untuk memberikan analisa formal dari pengambilan keputusan rasional berdasarkan sejumlah kepercayaan dan tujuan, serta menggabungkan beberapa area teori ekonomi, teori kemungkinan, game theory, dan teori public goods. Pada dasarnya mazhab ini meminjam dari pendekatan dalam ilmu ekonomi di mana dalam berperilaku, manusia sebagai aktor menetapkan tujuan dan sarana apa yang ingin digunakan dan selalu berusaha untuk mengejar kepentingan yang menguntungkan dirinya sendiri (egoistic). Suatu tindakan dapat dikatakan sebagai tindakan rasional apabila dapat mencapai tujuan akhir dan memanfaatkan segala sarana yang bisa digunakan.
Teori pilihan rasional (rational choice) dapat digunakan dalam mengkaji survey perilaku pemilih. Seperti survey yang dilakukan oleh LIPI dan FISIPOL UGM yang berjudul “Peta Politik 2009 Masih Akan Berubah”, dapat disimpulkan bahwa calon pemilih yang akan mengikuti pemilu legislative maupun pemilu presiden misalnya, mayoritas belum dapat memastikan calon yang akan dipilih, bahkan beberapa responden malahan tidak tau menahu mengenai waktu dilaksanakannya pemilu tersebut. Berdasarkan survey ini, sikap apatis masih mendominasi perilaku calon pemilih. Meskipun demikian, 95% responden mengaku akan memilih, hal ini menunjukan bahwa tingkat partisipasi dalam pemilu 2009 pun tinggi.
Dewasa ini, pemilih menggunakan pertimbangan rasional dalam menentukan calon pilihannya, yaitu berdasarkan informasi yang didapat, tidak hanya karena faktor kedekatan, status sosial, atau jenjang pendidikan. Para calon pemilih memilih calon yang sekiranya membawa dampak yang positif bagi diri pemilih tersebut, misalnya para pengusaha penerbit buku ajar bagi siswa sekolah tidak akan memilih kembali presiden SBY sebagai presiden di masa jabatan yang kedua karena terbukti kebijakannya yang menetapkan penggunaan buku online yang bisa diunduh secara gratis menghambat usaha yang mereka jalani dan melemahkan perekonomian mereka. Sebaliknya, para pemilih yang merupakan pebisnis atau pengusaha mendukung majunya Jusuf Kalla sebagai calon presiden karena diyakini dapat membawa angin segar terhadap usaha bisnis yang mereka tekuni. Begitupun dengan calon-calon lain seperti Megawati, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan lain-lain yang diusung oleh konstituen dengan berbagai kepentingan yang pragmatis.
Demikian juga halnya dalam pemilihan calon anggota legislative, mayoritas para pemilih menentukan pilihan pada partai karena mereka belum mengenal dengan baik sang calon legislative. Partai yang menjadi incaran pemilih adalah partai yang sudah terbukti bersih dengan program-program yang menjanjikan, maupun memilih partai berdasarkan figure yang menjadi aktor penting dalam partai tersebut. Para pemilih tidak akan memilih calon kandidat atau partai berdasarkan informasi yang tidak jelas, kecuali calon pemilih tersebut tidak menggunakan pertimbangan rasional dan bersikap apatis terhadap pelaksanaan pemilu.
Pertimbangan rasional yang dipakai pemilih dalam menentukan pilihannya inilah yang menyebabkan ramalan akan hasil pemilu legislative dan pemilu presiden tahun 2009 terkesan masih meraba-raba dan belum dapat ditebak hasilnya. Dengan menggunakan pertimbangan rasional, pemilih membutuhkan waktu untuk menentukan pilihannya dengan cara mengkaji keuntungan-keuntungan yang didapat ketika pilihan sudah ditentukan.
REVIEW Politicising Democracy: Local Politics and Democratization in Developing, Chapter 3: Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand, and In
Frizca Roosdhiana Putri
09/282943/SP/23619
Tulisan yang dibuat oleh T. Sidel ini pada umumnya membahas elit lokal yang terdapat di negara dunia ketiga, khususnya Asia Tenggara. Tujuan penulisan karangan ini adalah untuk mengkritisi argumen Joel Migdal yang memandang Local Strongmen sebagai kebiasaan yang sistematis dan memberi alternatif kerangka berfikir baru bagi para sarjana dan ahli politik dalam menganalisa kasus elit lokal yang terdapat dalam sebuah negara di mana analisa tersebut memusatkan perhatian terhadap adanya peluang elit lokal dalam mengakumulasi dan memonopolisasi ekonomi lokal dan kekuatan politik yang sangat berpengaruh terhadap struktur makro dan mikro suatu negara. Kerangka berfikir ini tidak hanya menjelaskan saat di mana elit lokal mulai timbul dan membentuk suatu kubu pertahanan bagi diri sendiri maupun kelompok mereka, namun juga menjelaskan bagaimana bentuk menyimpang dari peraturan-peraturan yang dibuat oleh elit lokal sendiri untuk mempertahankan kedudukan mereka yang diasumsikan sebagai konteks institusional yang berbeda. Sangat kontras dengan argumen yang disampaikan oleh Joel Migdal bahwa elit lokal muncul dan tumbuh subur di negara dunia ketiga dengan cara memanfaatkan kelemahan negara tersebut, sehingga dengan mudah mengambil kesempatan untuk membangun suatu jaringan masyarakat yang wajar dan otonom. Jaringan masyarakat ini sangat mempengaruhi aspek politik, sosial, dan ekonomi dalam masyarakat. Para elit lokal ini sukses memegang peranan penting dalam kontrol sosial dan mempertahankan kedudukannya melalui peraturan yang dibuatnya sendiri daripada mengemukakan aturan dalam retorik resmi, pernyataan politik, dan merancang undang-undang (Migdal 1988:256). Pola khusus dari kontrol sosial yang diterapkan oleh elit lokal ini terfragmentasikan secara efektif sehingga elit lokal menikmati berbagai macam keistimewaan dan keuntungan di atas pemimpin-pemimpin negara dan birokrat lokal. Hal ini dipetakan oleh Joel Migdal sebagai sebuah “Segitiga Akomodasi” di mana elit lokal menawarkan bagian-bagian yang penting yang disebut sebagai “Strategi Pertahanan” dengan cara berusaha memuaskan kebutuhan dan tuntutan pendukungnya. Intinya, tulisan ini ingin menunjukan variasi lain dari Local Strongman yang dikemukakan oleh Migdal dan berbagai dinamikanya dengan studi kasus di kawasan Asia Tenggara, yaitu negara Filipina, Thailand, dan Indonesia.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah bahwa elit lokal muncul tidak hanya karena negara yang lemah, namun juga kekuatan-kekuatan lokal yang memiliki ketahanan melebihi negara. Kekuatan lokal ini terdiri bermacam variasi, antara lain bossism, klan, dan oligarkhi. Elit lokal yang ada dalam suatu negara sangat mempengaruhi berjalannya struktur pemerintahan di negara tersebut, terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Para elit lokal tak jarang menggunakan cara yang ilegal dalam mewujudkan keinginannya, seperti pembelian suara, kecurangan pemilu, dan menyuap aparatur negara. Dalam bidang ekonomi, local strongmen memonopoli sumber daya yang ada dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan pribadi dan pendukungnya. Menilik isu demokrasi dan desentralisasi daerah yang diusung beberapa dekade terakhir ini, elit lokal berasa mendapatkan angin segar, di mana pemerintahan dan kekuasaan tidak hanya dipegang oleh satu tangan saja, yaitu pemerintah pusat. Kondisi ini malahan memantapkan posisi mereka sebagai suatu bagian dari masyarakat yang memiliki kekuatan untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya. Dalam kasus yang terjadi di Filipina, Thailand, dan Indonesia, elit lokal yang muncul juga dipengaruhi oleh sikap dari penjajahan sebelumnya terhadap para penguasa lokal. Hal inilah yang membuat kasus elit lokal mengakar kuat pada masing-masing negara.
Pendapat saya mengenai tulisan ini adalah bahwa elit lokal yang terdapat dalam suatu negara membentuk kekuatan politik yang sifatnya formal dan informal yang diimplementasikan secara langsung maupun tidak langsung ke dalam struktur pemerintahan suatu negara. Elit lokal ini selain menguasai sektor-sektor penting dalam kehidupan masyarakat, juga mendorong perekonomian menuju ke arah kapitalis yang menguntungkan bagi mereka. Elit lokal tidak dapat dimusnahkan karena sifatnya yang mengungguli pemerintahan yang sah. Tak jarang untuk memperoleh posisi yang strategis dan mempertahankan kekuasaan, mereka melakukan cara kekerasan, baik mental maupun fisik. Sebagai contoh adalah mengakarnya kelompok Jawara di Banten yang dapat dikatakan sebagai penguasa bayangan segala aspek kehidupan masyarakat di Banten, baik aspek politik-pemerintahan, sosial, budaya, dan terutama ekonomi. Misalnya dalam hal pemilihan kepala daerah, untuk mempertahankan posisinya, Jawara di banten mengusung calon yang dengan pasti akan menjamin semua kegiatan dan keinginan Jawara terlaksana. Niatan tersebut dibarengi dengan upaya untuk mewujudkannya, bahkan dengan cara kekerasan. Dalam aspek ekonomi, Jawara di Banten yang terhitung sangat mapan dalam kehidupan ekonomi terus berusaha memperkaya dirinya sendiri dengan cara memenangkan tender-tender proyek dari pemerintah. Tentu saja proses lobbying ini dilakukan dengan cara yang ilegal. Karena sifatnya yang berbentuk klan dan keberlangsungan generasinya terjamin, elit lokal ini susah dihilangkan. Selain itu juga karena elit lokal ini memastikan kenyamanan dan posisi yang strategis bagi para pendukungnya, dan sebaliknya akan membuat perhitungan bagi para lawan-lawannya, maka elit lokal bertahan sebagai kelompok masyarakat yang patut diperhitungkan bagi berjalannya politik dan pemerintahan suatu negara.
Tulisan T. Sidel yang berjudul Politicising Democracy: Local Politics and Democratization in Developing, Chapter 3: Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand, and Indonesia: Towards an Alternative Framework for the Study of ‘Local Strongmen’ ini sangat relevan dengan materi Dinamika Politik Lokal: Dari Orang Kuat, Klan, Hingga Oligarkhi karena mengupas dengan tuntas mengenai elit lokal yang berkuasa di suatu negara yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi struktur makro dan mikro negara tersebut. Tulisan ini juga membahas pendapat ahli lain mengenai Local Strongmen sehingga mampu memberikan perbandingan yang menyeluruh terhadap fenomena elit lokal yang ada dalam suatu negara.
09/282943/SP/23619
Tulisan yang dibuat oleh T. Sidel ini pada umumnya membahas elit lokal yang terdapat di negara dunia ketiga, khususnya Asia Tenggara. Tujuan penulisan karangan ini adalah untuk mengkritisi argumen Joel Migdal yang memandang Local Strongmen sebagai kebiasaan yang sistematis dan memberi alternatif kerangka berfikir baru bagi para sarjana dan ahli politik dalam menganalisa kasus elit lokal yang terdapat dalam sebuah negara di mana analisa tersebut memusatkan perhatian terhadap adanya peluang elit lokal dalam mengakumulasi dan memonopolisasi ekonomi lokal dan kekuatan politik yang sangat berpengaruh terhadap struktur makro dan mikro suatu negara. Kerangka berfikir ini tidak hanya menjelaskan saat di mana elit lokal mulai timbul dan membentuk suatu kubu pertahanan bagi diri sendiri maupun kelompok mereka, namun juga menjelaskan bagaimana bentuk menyimpang dari peraturan-peraturan yang dibuat oleh elit lokal sendiri untuk mempertahankan kedudukan mereka yang diasumsikan sebagai konteks institusional yang berbeda. Sangat kontras dengan argumen yang disampaikan oleh Joel Migdal bahwa elit lokal muncul dan tumbuh subur di negara dunia ketiga dengan cara memanfaatkan kelemahan negara tersebut, sehingga dengan mudah mengambil kesempatan untuk membangun suatu jaringan masyarakat yang wajar dan otonom. Jaringan masyarakat ini sangat mempengaruhi aspek politik, sosial, dan ekonomi dalam masyarakat. Para elit lokal ini sukses memegang peranan penting dalam kontrol sosial dan mempertahankan kedudukannya melalui peraturan yang dibuatnya sendiri daripada mengemukakan aturan dalam retorik resmi, pernyataan politik, dan merancang undang-undang (Migdal 1988:256). Pola khusus dari kontrol sosial yang diterapkan oleh elit lokal ini terfragmentasikan secara efektif sehingga elit lokal menikmati berbagai macam keistimewaan dan keuntungan di atas pemimpin-pemimpin negara dan birokrat lokal. Hal ini dipetakan oleh Joel Migdal sebagai sebuah “Segitiga Akomodasi” di mana elit lokal menawarkan bagian-bagian yang penting yang disebut sebagai “Strategi Pertahanan” dengan cara berusaha memuaskan kebutuhan dan tuntutan pendukungnya. Intinya, tulisan ini ingin menunjukan variasi lain dari Local Strongman yang dikemukakan oleh Migdal dan berbagai dinamikanya dengan studi kasus di kawasan Asia Tenggara, yaitu negara Filipina, Thailand, dan Indonesia.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah bahwa elit lokal muncul tidak hanya karena negara yang lemah, namun juga kekuatan-kekuatan lokal yang memiliki ketahanan melebihi negara. Kekuatan lokal ini terdiri bermacam variasi, antara lain bossism, klan, dan oligarkhi. Elit lokal yang ada dalam suatu negara sangat mempengaruhi berjalannya struktur pemerintahan di negara tersebut, terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Para elit lokal tak jarang menggunakan cara yang ilegal dalam mewujudkan keinginannya, seperti pembelian suara, kecurangan pemilu, dan menyuap aparatur negara. Dalam bidang ekonomi, local strongmen memonopoli sumber daya yang ada dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan pribadi dan pendukungnya. Menilik isu demokrasi dan desentralisasi daerah yang diusung beberapa dekade terakhir ini, elit lokal berasa mendapatkan angin segar, di mana pemerintahan dan kekuasaan tidak hanya dipegang oleh satu tangan saja, yaitu pemerintah pusat. Kondisi ini malahan memantapkan posisi mereka sebagai suatu bagian dari masyarakat yang memiliki kekuatan untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya. Dalam kasus yang terjadi di Filipina, Thailand, dan Indonesia, elit lokal yang muncul juga dipengaruhi oleh sikap dari penjajahan sebelumnya terhadap para penguasa lokal. Hal inilah yang membuat kasus elit lokal mengakar kuat pada masing-masing negara.
Pendapat saya mengenai tulisan ini adalah bahwa elit lokal yang terdapat dalam suatu negara membentuk kekuatan politik yang sifatnya formal dan informal yang diimplementasikan secara langsung maupun tidak langsung ke dalam struktur pemerintahan suatu negara. Elit lokal ini selain menguasai sektor-sektor penting dalam kehidupan masyarakat, juga mendorong perekonomian menuju ke arah kapitalis yang menguntungkan bagi mereka. Elit lokal tidak dapat dimusnahkan karena sifatnya yang mengungguli pemerintahan yang sah. Tak jarang untuk memperoleh posisi yang strategis dan mempertahankan kekuasaan, mereka melakukan cara kekerasan, baik mental maupun fisik. Sebagai contoh adalah mengakarnya kelompok Jawara di Banten yang dapat dikatakan sebagai penguasa bayangan segala aspek kehidupan masyarakat di Banten, baik aspek politik-pemerintahan, sosial, budaya, dan terutama ekonomi. Misalnya dalam hal pemilihan kepala daerah, untuk mempertahankan posisinya, Jawara di banten mengusung calon yang dengan pasti akan menjamin semua kegiatan dan keinginan Jawara terlaksana. Niatan tersebut dibarengi dengan upaya untuk mewujudkannya, bahkan dengan cara kekerasan. Dalam aspek ekonomi, Jawara di Banten yang terhitung sangat mapan dalam kehidupan ekonomi terus berusaha memperkaya dirinya sendiri dengan cara memenangkan tender-tender proyek dari pemerintah. Tentu saja proses lobbying ini dilakukan dengan cara yang ilegal. Karena sifatnya yang berbentuk klan dan keberlangsungan generasinya terjamin, elit lokal ini susah dihilangkan. Selain itu juga karena elit lokal ini memastikan kenyamanan dan posisi yang strategis bagi para pendukungnya, dan sebaliknya akan membuat perhitungan bagi para lawan-lawannya, maka elit lokal bertahan sebagai kelompok masyarakat yang patut diperhitungkan bagi berjalannya politik dan pemerintahan suatu negara.
Tulisan T. Sidel yang berjudul Politicising Democracy: Local Politics and Democratization in Developing, Chapter 3: Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand, and Indonesia: Towards an Alternative Framework for the Study of ‘Local Strongmen’ ini sangat relevan dengan materi Dinamika Politik Lokal: Dari Orang Kuat, Klan, Hingga Oligarkhi karena mengupas dengan tuntas mengenai elit lokal yang berkuasa di suatu negara yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi struktur makro dan mikro negara tersebut. Tulisan ini juga membahas pendapat ahli lain mengenai Local Strongmen sehingga mampu memberikan perbandingan yang menyeluruh terhadap fenomena elit lokal yang ada dalam suatu negara.
Jumat, 19 November 2010
Perjalanan
Hanya sedetik kilat yang menyambar
Cepat dan berbekas
Perjalanan ini kulalui bersamamu
Di tengah deru abu yang iringi putaran langkah
Sejauh mata memandang
Hanya ada senyuman dan tatapanmu
Tak ingin aku beranjak
Tak ingin ini berakhir
Yang kumau hanyalah bersamamu
Mungkinkah kau sadari itu
Ketika kurasakan cinta yang tak semestinya
Ketika perjalanan ini menjadi saksi dilema yang terjadi
Sanggupkah kau bertahan dengan keputusanmu
Dan..menafikan aku?
Perjalanan ini, sayang..
Kuyakin akan selalu kurindukan
Ketika abu memang bukan biru atau merah jambu
Namun tetap berwarna untukku..
(Love in Disaster,Nov2010)
Cepat dan berbekas
Perjalanan ini kulalui bersamamu
Di tengah deru abu yang iringi putaran langkah
Sejauh mata memandang
Hanya ada senyuman dan tatapanmu
Tak ingin aku beranjak
Tak ingin ini berakhir
Yang kumau hanyalah bersamamu
Mungkinkah kau sadari itu
Ketika kurasakan cinta yang tak semestinya
Ketika perjalanan ini menjadi saksi dilema yang terjadi
Sanggupkah kau bertahan dengan keputusanmu
Dan..menafikan aku?
Perjalanan ini, sayang..
Kuyakin akan selalu kurindukan
Ketika abu memang bukan biru atau merah jambu
Namun tetap berwarna untukku..
(Love in Disaster,Nov2010)
Lagi
Kala surya meredupkan cahaya
Seketika gelap dunia, gulita
Kelam malam datang
Memaku hati penuh bimbang
Sendiri tak kubenci
Bukan sepi..
Tapi dikhianati!
Sakitnya tak terperi
Hanya luka terpatri
Lalu setitik terang terbias
Ternyata..
Bintang itu cinta lagi..
Seketika gelap dunia, gulita
Kelam malam datang
Memaku hati penuh bimbang
Sendiri tak kubenci
Bukan sepi..
Tapi dikhianati!
Sakitnya tak terperi
Hanya luka terpatri
Lalu setitik terang terbias
Ternyata..
Bintang itu cinta lagi..
Senin, 01 November 2010
bertemu lagi...dengan mimpi-mimpi..
oke..setelah sekian lama ga nge-blog..saya datang lagi..entah dengan motif apa..
banyak bgt yang uda terjadi..banyak yang uda berubah..
sekarang saya mau mencoba membagi mimpi2 saya yaaa..semoga dgn dibagi akan lebih cepat diraih..hahahahaha
dan..mimpi-mimpi saya adalah..
1. IP yg tinggi, kerjain tugas2 dgn baik dan benar dan cepat lulus kuliah
2. wisuda..seneng ngebayangin senyum bapak ibu saat nama saya dipanggil sebagai S.IP
3. kerja di DepLu..atau awal2 di Pemprov dulu dehhh..
4. kuliah S2 HAM dan Demokrasi di Singapore..
5. pengen aktif PSM UGM lagi..pengen nyanyi
6. oh iyaa...saya pengen dapat calon suami yang baik, seideologi, bisa diajak diskusi, dan tampan..hahaha ko subyektif mengarah pada satu target ya..wakawaka
yaa.. begitulah.. sempat saat dikhianati oleh orang yang sangat saya sayangi, saya merasa hidup ini tak ada artinya lagi, tapi setelah diselami..saat saya masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup nafas kebesaranNya, saya tau Dia pasti memberikan saya yang terbaik dalam hidup ini.. semangaaattt!!
banyak bgt yang uda terjadi..banyak yang uda berubah..
sekarang saya mau mencoba membagi mimpi2 saya yaaa..semoga dgn dibagi akan lebih cepat diraih..hahahahaha
dan..mimpi-mimpi saya adalah..
1. IP yg tinggi, kerjain tugas2 dgn baik dan benar dan cepat lulus kuliah
2. wisuda..seneng ngebayangin senyum bapak ibu saat nama saya dipanggil sebagai S.IP
3. kerja di DepLu..atau awal2 di Pemprov dulu dehhh..
4. kuliah S2 HAM dan Demokrasi di Singapore..
5. pengen aktif PSM UGM lagi..pengen nyanyi
6. oh iyaa...saya pengen dapat calon suami yang baik, seideologi, bisa diajak diskusi, dan tampan..hahaha ko subyektif mengarah pada satu target ya..wakawaka
yaa.. begitulah.. sempat saat dikhianati oleh orang yang sangat saya sayangi, saya merasa hidup ini tak ada artinya lagi, tapi setelah diselami..saat saya masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup nafas kebesaranNya, saya tau Dia pasti memberikan saya yang terbaik dalam hidup ini.. semangaaattt!!
Langganan:
Komentar (Atom)
