Rabu, 09 Februari 2011

Satu Untuk Indonesia



Miris banget ya kalo belakangan ini nonton berita.. ada kekerasan di mana-mana.. ga usah di Mesir deh yang lagi demo besar-besaran diwarnai tindak kekerasan dan kriminalitas, di Indonesia.. saling menyerang, menyiksa, bahkan membunuh di antara saudara sendiri tu udah jadi hal yang biasa. Mereka yang dirasa ga sekelompok, ga se-ideologi, ga se-agama dianggap salah... salah di sini masih masuk ke pengertian manusia lho…
Mungkin berhubungan dengan hal itu juga khotbah di gereja minggu kemarin Romo-nya kasih cerita perumpamaan inspiratif tentang Yesus yang maniak sepak bola. Jadi, di suatu hari ada pertandingan sepak bola antara kesebelasan Kristiani sama kesebelasan non Kristiani, di situ Yesus nonton duduk dengan asyiknya. Waktu kesebelasan kristiani berhasil mencetak gol, Yesus teriak-teriak girang sambil loncat-loncat, niup terompet. Tak lama kemudian, kesebelasan non Kristiani berhasil menyamakan kedudukan, Yesus juga tetep kegirangan kaya tadi. Yang di sebelah Yesus jadi bingung..ini sebenernya Yesus mihak yang mana sih kok dua-duanya masukin gol dan Yesus tetep loncat-loncat seneng. Yesus jawab gini “Aku tidak memihak siapapun. Yang penting adalah pencetakan gol. Itu kan esensi dari sepak bola. Pokoknya aku maniak sepak bola, terserah siapa yang mencetak gol”. Ya, begitulah esensi pencetakan gol adalah esensi kehidupan. Siapapun yang melakukan, apapun agama, ideology, dan kepercayaannya. Pencetakan gol dalam kehidupan ini merupakan suatu proses dan hasil kita memaknai nilai-nilai ‘vertikal’ dan ‘horisontal’, dengan Tuhan dan dengan sesama. Keduanya harus seimbang. Kadang-kadang manusia hanya berpikir bahwa Tuhan yang utama, aku ga bilang sih mereka salah memahami atau gimana, tapi yang aku tahu, Tuhan itu kan Maha Kasih, kalau mereka benar-benar mengandalkan Tuhan dalam kehidupan mereka.. masa iya, mereka tega menodai nilai-nilai kemanusiaan? Alasan membela Tuhan dan membela agama itu ambigu banget ya.. mengutip kata Gus Dur, Tuhan itu kan ga perlu dibela.. lagian setauku di agama manapun ga diajarin bunuh membunuh gitu.. kalo emang itu dirasa salah.. doakan! Kan malah membuktikan kalo kita punya agama.. Tuhan ga pernah liat agama kita kok.. ga mungkin lah waktu mati ditanyain “kamu agamanya apa..? ohh agama X..?kamu ga boleh masuk surga” ga mungkin kaya gitu, pasti yang diutamain adalah perbuatan kita. Buat apa tiap hari belajar Kitab Suci, belajar agama sampai ke akar-akarnya tapi ga punya rasa kemanusiaan..?
Kita harus tau, semakin terpecah, kita bakal semakin hancur.. Indonesia yang ada sekarang ini udah rapuh banget!! Jangan tambahin lagi lah masalah-masalah yang harusnya ga terjadi.. mau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua.. mau suku Jawa, Batak, Sunda, Dayak, Madura, kulit hitam kulit putih.. Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu, Kejawen, ga punya agama.. mau yang agamis, marhaenis, nasionalis, liberalis, sosialis.. itu semua ga ada bedanya.. Cuma identitas yang melekat dalam diri kita aja yang jelas kita itu tetep satu.. INDONESIA. Oke?? INDONESIA yang ber-BHINNEKA TUNGGAL IKA!!!!!! Ga ada bedanya..!
Kata Bung Karno, persatuan Indonesia adalaha condition sine qua non syarat mutlak bagi tegak dan jayanya Indonesia, ga bisa ditawar-tawar lagi. Jadi, udah jelas kan.. ayolah kita berdamai, ayolah kita bersatu.. kita bangkit lagi dari keterpurukan ini.. kita bangun Indonesia yang baru..! berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, susah senang kita rasakan sama-sama.
Yaaahh..tulisan ini entah bisa ngrubah keadaan atau nggak at least aku uda ngeluarin unek-unekku, mungkin sekarang aku ga bisa apa-apa.. tapi suatu hari nanti aku akan jadi salah seorang Putra Sang Fajar yang bisa membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi..aku janji!
HIDUP INDONESIA BARU!

Sabtu, 05 Februari 2011

Wacana Sultan Wanita di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat: Kebangkitan Feminisme di Tengah Kungkungan Tradisi


Sebagai salah satu Keraton di Jawa yang masih setia mempertahankan tradisi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berusaha terus melestarikannya melalui pemimpin yang diyakini mampu membawa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke arah yang lebih baik tanpa melupakan fondasi-fondasi utama yang pada jaman dahulu kala telah diletakkan oleh para leluhur. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sendiri memiliki banyak konsep social, budaya, dan filosofi-filosofi yang adiluhung, sehingga dijadikan pegangan oleh masyarakatnya. Masyarakat Yogyakarta yang berkiblat pada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sosok utuh manusia Jawa sejati yang dapat dijadikan panutan karena sifat sabar, halus, dan nrimo (pasrah). Oleh karena itulah figure pemimpin (raja) menjadi begitu penting di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan bagi masyarakat Yogyakarta pada umumnya, karena sejak didirikan untuk pertama kalinya, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah dikenal kedekatan antara raja dan rakyatnya, sehingga raja yang memerintah dituntut untuk memiliki kapabilitas menjadi suri teladan yang baik bagi rakyatnya.
Dunia mengakui bahwa dibalik seorang pemimpin pria, pasti ada peran wanita super di belakangnya. Namun, kini wanita tak lagi hanya diakui sebagai sosok yang berdiri di belakang pria, yang hanya berperan sebagai pendorong keputusan yang diambil oleh pria. Wanita telah berhasil menyejajarkan posisinya dengan kaum pria, wanita berhak memimpin, wanita berhak mengambul keputusan. Wanita masa kini telah memiliki kapasitas yang sama dengan pria, baik aspek intelegensi maupun leadership. Maka dari itu, tidak pernah menutup kemungkinan bahwa suatu hari nanti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat maupun istana-istana lainnya dipimpin oleh seorang wanita sebagai ratu, karena bagaimanapun juga di era keterbukaan ini sudah bukan masanya lagi wanita mengalami diskriminasi dan diberikan hak-hak yang lebih rendah daripada kaum pria.


Feminisme di Lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Dulu Hingga Kini
Berawal dari politik devide et impera (adu domba) yang dijalankan oleh pemerintahan kolonial Belanda yang bertujuan untuk memecah belah Kerajaan Mataram, yang akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti (1755) yang berisikan bahwa Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua bagian, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang menentang campur tangan Belanda dengan urusan dalam negeri Kerajaan Mataram pun akhirnya hijrah ke Yogyakarta dan mendirikan sebuah kerajaan. Di kerajaan yang dibangun mulai tahun 1756 dan kemudian diberi nama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itulah Pangeran Mangkubumi menjadi raja pertama dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pangeran Mangkubumi merupakan tonggak awal berdirinya dinasti-dinasti Kesultanan di Yogyakarta yang tradisi spiritual dan budayanya hingga kini masih dipegang teguh oleh para penerusnya.
Pada awal berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, secara simbolik telah diakui bahwa pria dan wanita memiliki peran yang saling melengkapi, dibuktikan dengan dibangunnya tugu pal putih yang memiliki garis imajiner lurus dengan tahta Sultan di Keraton sebelah Selatan dan dengan puncak Gunung Merapi di sebelah utara. Tugu ini berbentuk lingga dan yoni, yaitu symbol alat kelamin pria dan wanita yang saling menyatu, menandakan bahwa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyadari bahwa pria dan wanita merupakan kesatuan yang utuh dan tak dapat dipisahkan. Tak hanya berwujud tugu, symbol lingga dan yoni juga terdapat di bagian-bagian tertentu di bangunan di dalam lingkungan Keraton. Meskipun secara tersirat telah ada pengakuan persamaan atau fungsi saling membutuhkan antara pria dan wanitasejak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri, namun wanita tetap menjadi warga negara kelas dua di lingkungan Keraton dan masyarakat pada umumnya. Wanita yang tinggal di dalam lingkungan Keraton dituntut untuk menjaga diri sebaik-baiknya, baik dalam pikiran maupun tingkah laku. Wanita tidak dapat mengemukakan pendapatnya dengan bebas. Bahkan wanita-wanita Keraton dilarang keras untuk membantah perkataan dan keputusan yang telah ditetapkan oleh ayah, suami, maupun kakak lelakinya. Pria begitu mengambil baanyak bagian dalam kehidupan Keraton, wanita hanya mampu untuk ber-sendika dhawuh menaati semua yang telah ditetapkan oleh kaum pria. Intinya, garis kehidupan seorang wanita di dalam Keraton telah ditentukan oleh paugeran-paugeran (aturan-aturan) di dalam Keraton dan berdasarkan kehendak ayah, suami, maupun kakak lelakinya. Jika ia membantah, yang ada hanyalah sebuah situasi di mana akan semakin memojokan posisi wanita tersebut. Para wanita keraton ini meski beruntung sempat diberi kesempatan untuk mengecap bangku pendidikan jika dibandingkan dengan rakyat biasa, namun tetap saja kesempatan itu tidak seluas yang diberikan kepada pria yang diijinkan untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Alasan dari keputusan ini adalah anggapan bahwa setinggi apapun pendidikan yang dicapai oleh wanita, semua itu akan menjadi sia-sia belaka karena wanita telah ditakdirkan untuk menjadi sekedar konco wingking bagi pria atau disebut juga sebagai pengurus rumah tangga. Bahkan dalam upacara-upacara/ritual pun wanita berjalan atau duduk di belakang pria. Hal ini membuktikan adanya kesenjangan jender di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di masa lampau, ketika ide-ide kesetaraan jender dirasa be lum penting untuk diwacanakan maupun diimplementasikan.
Seiring dengan perkembangan jaman, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun dalam beberapa hal mulai mengikuti konsep-konsep global tanpa meninggalkan tradisi yang telah dianut sejak lama. Begitu juga dengan isu kesetaraan jender yang telah merebak di berbagai belahan dunia di mana persamaan hak antara pria dan wanita mulai diperjuangkan. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun mulai member kesempatan kepada wanita, terutama dalam hal pendidikan dan menentukan nasibnya sendiri. Peran wanita di dalam Keraton mulai diperhitungkan dengan diangkatnya wanita sebagai pemimpin yang membawahi dan mengatur beberapa urusan tertentu di Keraton, misalnya persiapan upacara maupun urusan kebudayaan lainnya, namun tetap saja urusan itu tak jauh-jauh dari tugas wanita sesungguhnya. Meski pria masih bertindak sebagai pengambil keputusan, namun wanita tak dilarang untuk urun rembug menyampaikan penggalih (perasaannya) atas pengambilan suatu keputusan . secara langsung maupun tidak langsung, dewasa kini dalam banyak hal peran antara pria dan wanita di dalam Keraton mulai disejajarkan dan saling melengkapi.
Terkait wacana pengganti Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mulai bergulir di masyarakat, santer beredar isu bahwa GKR. Pembayun (yang memiliki nama lahir GRA. Nurmalitasari), putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono X telah dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya menduduki tahta kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Hal ini mengingat bahwa Sri Sultan tidak memiliki anak laki-laki untuk menjadi putra mahkota dan hanya memiliki lima anak perempuan, yaitu GRA. Nurmalitasari (GKR. Pembayun), GRA. Nurmagupita (GKR. Condrokirono), GRA. Nurkamnari Dewi (GKR. Maduretno), GRA. Nurabra Juwita, dan GRA. Nurastuti Wijareni.
Sebagai seseorang yang “digadhang-gadhang” menjadi penerus tahta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR. Pembayun cukup memiliki kompetensi dan kapabilitas yang memadai. Dahulu, seorang Sekar Kedhaton (putri utama keraton) sangat tertutup dan memiliki akses yang terbatas dengan dunia luar, sehingga tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menjadi seorang pemimpin, atau bahkan pengganti Sultan, namun berbeda dengan putri-putri Keraton jaman dulu, GKR. Pembayun merupakan seorang putri yang berwawasan luas, tak heran karena beliau memiliki pendidikan yang tinggi, selain itu juga sudah tidak canggung lagi jika bergaul kalangan internasional karena beliau telah lama tinggal di Australia untuk menempuh pendidikannya dan membawa pulang gelar sarjana bisnis retail dan telah malang melintang menjalankan bisnisnya yang juga berskala internasional. Kedekatannya dengan rakyat ditunjukannya dengan menjadi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Indikator-indikator ini membuktikan bahwa GKR. Pembayun sebagai seorang wanita masa kini yang diwacanakan untuk menjadi Sultan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki kemampuan yang sejajar dengan pria. Beliau adalah seorang putri keraton hasil didikan dari kebangkitan feminisme.

Hakikat Wanita dan Kekuasaan dalam Tradisi Jawa
Pada dasarnya, pria dan wanita diciptakan sama oleh Tuhan. perbedaan-perbedaan yang ada di antara pria dan wanita bertujuan agar pria dan wanita dapat saling melengkapi dalam menjalani kehidupan. Namun kenyataannnya pria dianggap memiliki kedudukan yang lebih superior dibandingkan dengan wanita. Terutama pandangan banyak orang bahwa wanita Jawa sebagai wajah ketertindasan . Menurut falsafah Jawa, kata wanita merupakan gabungan dari kata “wani” (berani) dan “ditata” (diatur), artinya, seorang wanita adalah sosok yang berani ditata atau diatur. Dalam kehidupan praktis masyarakat Jawa, wanita adalah sosok yang selalu mengusahakan keadaan tertata, sehingga untuk itu pula dia harus menjadi sosok yang berani ditata. Berani ditata tidak berarti wanita menjadi pasif dan tergantung kepada orang yang mengaturnya .
Perbedaan yang mengemuka antara superior dan inferior pria dan wanita terlahir karena adanya pembentukan fisik dan sikap antara pria dan wanita yang berlainan. Pria terlahir dengan kondisi fisik yang tegap dan kekar, sedangkan wanita terlahir dengan kondisi fisik dan sikap yang terkesan rentan, lembut, dan lemah gemulai. Hal inilah yang menimbulkan konsepsi perbedaan antara pria dan wanita. Dalam lingkungan keluarga, pria mendapat peran di arena publik, misalnya bekerja dan mencari nafkah di lingkungan luar rumah karena dengan kondisi fisiknya dianggap mampu bertahan dengan keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan di dunia luar. Sedangkan, wanita mendapat peran di arena domestic, yaitu mengurus rumah tangga, karena kondisi fisiknya dianggap tidak mampu bertahan menghadapi tantangan-tantangan di dunia luar. Karena berada di arena domestic, wanita cenderung memiliki pola pikir yang taktis dan praktis. Dalam menghadapi setiap masalah, wanita berfikir secara menyeluruh di samping memakai kehalusan perasaannya.
Pandangan yang menjadi mitos orang Jawa adalah anggapan bahwa wanita menjadi konco wingking seorang suami. Anggapan ini lahir dari konsep paternalistik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Jawa. Konco wingking yang menjadi patokan di masa lalu tersebut memiliki definisi yang sempit, yaitu wanita hanya sebagai seseorang yang mengurusi dapur dan mencukupi kebutuhan suami dan anaknya. Wanita dianggap tabu apabila terlalu berurusan dengan dunia luar secara intensif. Pada akhirnya anggapan ini bergeser sesuai dengan perkembangan jaman. Kini, konco wingking tidak dapat diinterpretasikan melalui satu sisi saja, yaitu sisi negative. Meski anggapan kinco wingking tidak bisa benar-benar lepas dari wanita Jawa, namun para wanita ini, sebagai konco wimgking dari pria/suami sanggup menjadi seorang sutradara yang mengatur scenario dengan baik. Wanita Jawa memiliki kekuasaan yang terselubung di balik keputusan dan kemampuan seorang pria/suami . Konsep falsafah Jawa yang lain yaitu “garwa” atau sigaraning nyawa dirasa lebih egaliter dan sejajar karena memiliki arti belahan jiwa.
Terlepas dari mitos-mitos dan pandangan negative terhadap wanita Jawa, sesungguhnya wanita Jawa merupakan sosok yang sabar dan siap menderita. Wanita Jawa berpegang pada peribahasa “cancut tali wanda”, yang memiliki arti bahwa sikap siap untuk terlibat, mengambil peran, bahkan komando dan taktis untuk menghadapi masalah, tidak hanya dalam ide tapi juga dalam pelaksanaannya. Wanita Jawa terkenal akan kesediaannya untuk menderita, ketahanan dalam menghadapi segala masalah, dan kesetiaannya dalam pengabdian.
Wanita Jawa merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan. Dalam banyak hal, wanita Jawa sesungguhnya ikut mengambil bagian dalam setiap unsur kekuasaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hakikatnya, konsep kekuasaan Jawa menuntut adanya keseimbangan antara feminin dan maskulin atau kombinasi antara pria dengan wanita karena telah diketahui bahwa pria dan wanita ada untuk saling melengkapi, walaupun terasa janggal apabila menggabungkan keduanya karena wanita identik dengan kelemah lembutan, sedangkan kekuasaan identik dengan kekuatan dan ketegaran yang dimiliki oleh kaum pria. Konsensus yang berlaku di masyarakat adalah minimnya kesempatan yang diberikan kepada wanita untuk menjadi pemimpin. Dari segala kelemahan yang dituduhkan kepadanya, kekuatan wanita Jawa sebagai pemimpin sesungguhnya justru ada dalam sisi feminisnya tanpa banyak menonjolkan sisi maskulin yang dimiliki oleh kaum laki-laki.

Kesimpulan, Harapan, dan Solusi
Tentunya dapat dipastikan bahwa tak mudah bagi GKR. Pembayun untuk menduduki tahta kerajaan sepeninggal ayahandanya kelak, karena belum pernah ada suksesi pergantian tampuk kekuasaan Sultan dengan diangkatnya seorang wanita sebagai Sultan pengganti. Sejak dinasti awal didirikannya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Pangeran Mangkubumi hingga saat ini, pengganti-penggantinya merupakan seorang pria. Naiknya GKR. Pembayun ke atas tahta akan menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat, bahkan di kalangan kerabat Kraton sendiri.
Paugeran atau perundang-undangan yang mengatur kehidupan di dalam kraton yang diyakini oleh kerabat kraton selama ini mengenai pengganti setelah raja mangkat adalah putra laki-laki yang telah ditunjuk , jika raja tidak memiliki putra laki-laki, maka kedudukannya sebagai Sultan digantikan oleh adiknya laki-laki. Hal ini termaktub dalam konvensi tradisional Kerajaan mataram dan telah dipraktekkan ketika masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V yang tiba-tiba wafat, kemudian digantikan adik laki-lakinya yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Oleh karena itu, apabila GKR. Pembayun naik tahta sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, maka akan meruntuhkan tradisi sejak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan. Layaknya konstitusi negara yang dapat diamandemen, maka tidak mustahil bahwa paugeran (perundang-undangan) di dalam keraton juga bisa diubah sesuai dengan perkembangan jaman, karena sesungguhnya paugeran tersebut bersifat dinamis. Namun, semuanya itu juga tergantung dari otoritas Sultan yang pada saat itu tengah berkuasa dengan mempertimbangkan pendapat dari kerabat keraton, sehingga keputusan yang dititahkan Sultan nantinya merupakan wujud dari kesepakatan internal bersama keluarga keraton.
Raja yang berkuasa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak didirikan pertama kali memiliki gelar lengkap, yaitu Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Ngalaga Abdurahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang jumeneng kaping … . Terjemahan bebas dari gelar tersebut adalah Yang Mulia Sri Sultan Hamengku Buwono, Pemimpin Tertinggi dalam Peperangan, Pemimpin Tertinggi dalam Agama, Kalifah yang diutus oleh Allah SWT. Kontroversi wacana naiknya GKR. Pembayun ke atas tahta juga berpedoman pada gelar yang telah turun temurun tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika ratu mengemban gelar “sayidin panatagama dan khalifah” yang diartikan sebagai imam. Menurut hukum Islam, Imam haruslah seorang laki-laki. Begitupun juga tercantum dalam Serat Puji yang ditulis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V (1846-1850) mengenai suksesi keraton yang bersandar pada ajaran Islam bahwa syarat untuk menjadi raja adalah harus alim dan bertakwa, jika memungkinkan diambil dari seorang laki-laki. Namun, semua ketentuan itu hanyalah anjuran yang pelaksanaannya dapat dikondisikan sesuai keadaan, bagaimanapun surat-surat itu bukanlah Kitab Suci yang merupakan harga mati. Mengenai gelar keagamaan, jika GKR. Pembayun berhasil menjadi Sultan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengenai gelar keagamaan, gelar tersebut dapat terus dilestarikan dengan mengangkat patih sebagai pelaksana kegiatan keagamaan. Begitupun juga dengan melihat kenyataan di masa depan bahwa gelar raja hanyalah meerupakan simbol kultural, bukan simbol politis, karena itulah masih dipertanyakan apakah fungsi keagamaan masih penting bagi seorang raja.
Terlepas dari kontroversi dan halangan-halangan yang mengiringi wacana naiknya GKR. Pembayun ke atas tahta menjadi Sultan menggantikan ayahnya kelak, seharusnya alasan karena beliau adalah seorang wanita tidak dapat dijadikan alasan utama, karena bagaimanapun juga beliau layak diberi kesempatan untuk berbakti dan memimpin rakyat di tanah kelahirannya sendiri. Jika di dunia internasional telah ada Ratu Elizabeth di Inggris, Perdana Menteri Indira Gandhi di India, bahkan Presiden Megawati di Indonesia, lalu mengapa GKR. Pembayun tidak bisa menjadi seorang pemimpin? manusia tidak dapat hidup dengan hanya berlandaskan mitos. Telah dibuktikan bahwa wanita masa kini bukanlah kaum inferior lagi. Entah nanti apakah GKR. Pembayun menjadi seorang penerus tahta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau tidak karena berbagai alasan yang telah ditetapkan Sultan dan Kerabat Keraton, perlu ditekankan pemahaman kepada masyarakat bahwa segala keputusan yang diambil merupakan keputusan yang terbaik dan sesuai dengan kesepakatan bersama.




FRIZCA ROSDHIANA PUTRI
09/282943/SP/23619
Jurusan Politik dan Pemerintahan
FISIPOL-UGM